SEBUAH “CETAR” UNTUK ANCOL YANG LEBIH “MEMBAHANA”
Dhimas Wisnu Mahendra
DAHULU
“Masuki Dunia Fantasi. Dunia ajaib yang
mempesona. Dunia sensasi, penuh atraksi. Rekreasi untuk keluarga. Marilah kita
pergi sekeluarga. Untuk dapat puas bahagia. Dalam dunia yang mempesona. Dunia
Fantasi kita…”
Jingle itu begitu sederhana, mudah
melekat, masih terus berputar, terngiang-ngiang di kepala, bahkan setelah
berlalu dua puluh lima tahun. Melayang ingatan pada suatu malam Minggu yang cerah,
panjang lagi menyenangkan, sekitar tahun 1988. Diajak oleh orang tua sahabat
yang tinggal bertetangga persis sebelah kanan rumah, bersama teman-teman
sepermainan, berjubelan di dalam Toyota Kijang. Itulah pertama kalinya saya terpana
saat mengunjungi tempat wisata terkenal di Jakarta, Taman Impian Jaya Ancol, yang sebelum kami lahir lebih populer disebut
Bina Ria.
Meski hanya
sebentar berputar-putar, menyusuri tepi pantai, menyambangi Pasar Seni, dan mengitari area theme park Dunia Fantasi yang pesat berkembang menjadi daya tarik utama Ancol
sejak dibuka pada 29 Agustus 1986, tiada henti kami berdecak kagum. Terpancar
dari binar yang terpantul di mata membelalak kami. Menyaksikan benderang kincir
raksasa Bianglala, ditingkah ledakan
petasan bersahutan dan percik kembang api yang mewarnai langit malam yang bersih
tanpa awan, imajinasi masing-masing kami berlompatan, lincah menari, mengikuti
irama jingle yang mengajak bernyanyi.
“Marilah nyanyi dan tertawa gembira. Dalam
dunia penuh impian. Khayalan membawa harapan. Dunia Fantasi kita.”
Terbatasnya
waktu membuat kami menelan harap, sambil menelan ludah melihat sekumpulan anak
mengerumuni gerobak, menjilati es krim nikmat. Sadar tak mungkin malam itu kami
diajak naik komedi putar atau kereta gantung, atau minimal berfoto dengan badut
bekantan berhidung terong, ikon Dufan,
yang kerap kami lihat di lembaran iklan pada majalah Bobo, dalam hati aku menyimpan impian, suatu saat aku akan kembali
bersama keluargaku. Mungkin nanti jika papaku sudah mempunyai mobil sendiri.
Mimpi sederhana anak usia delapan tahun.
Kijang kami yang
tidak dapat melompat itu meluncur tenang menyeberangi jembatan merah yang
kabarnya dulu adalah tempat hantu Si
Manis Jembatan Ancol sering menampakkan diri. Kata orang sich cantik, tetapi hantu tetap saja
menyeramkan. Lagipula waktu itu aku belum mengerti ‘cantik’ itu seperti apa. Tapi
aku dan teman-teman bersyukur diajak oleh Om Yon dan Tante Nike, orang tua Adi
dan Yana, bertamasya ke Ancol. Pengalaman malam itu berkesan begitu dalam dan
tidak terlupakan.
Dua tahun
kemudian, terwujud juga impian bersama keluarga piknik ke Ancol. Akhirnya aku
masuki juga Dunia Fantasi yang selama
ini terbingkai dalam alam fantasi. Terpesona menyaksikan aneka tingkah dua
puluh tiga gorila dan simpanse lucu, yang sebenarnya mekanik, di wahana Balada Kera, lincah memainkan operet musik.
Berikutnya, duduk tenang di perahu, kami berdebar ketika memasuki terowongan,
menyusuri sungai berliku dalam gua buatan. Pengunjung mulai berseru riuh dan terpukau
saat menjumpai boneka animatronik berjajar melambai di tepian sungai, menari
dengan gemulai. Mengenakan pakaian khas dari beragam daerah Nusantara hingga
etnis negara berbagai belahan dunia, boneka-boneka yang mencapai enam ratus buah
jumlahnya itu menyapa hangat pengunjung di Istana
Boneka. Mengagumi boneka gadis Bali melenggak-lenggok, atau gadis Hawaii
menari hula-hula dengan liuk menarik, aku di usia sepuluh tahun mulai mengerti,
mungkin inilah yang dinamakan ‘cantik’.
Tapi saat itu,
aku lebih tertarik pada sosok jagoan Ksatria
Baja Hitam yang kabarnya datang langsung dari Jepang! Dulu saat Gaban dan Goggle Five, tokoh jagoan favorit anak-anak pada tahun
delapanpuluhan, mengadakan show di
Indonesia, aku belum punya keberanian meminta izin orang tua untuk nonton di
Istora (Istana Olahraga, Senayan). Sadar biayanya besar, tak ingin membebani mereka,
aku pun bersabar. Hingga kemudian datang lagi kabar! Ksatria Baja Hitam datang
ke Indonesia, akan beraksi di Ancol! Gratis pula! Inilah kesempatan yang
kunantikan. Sembari berdebar pinta kuajukan. Bersyukur orang tuaku mengabulkan.
Malu juga sebab sempat kujadikan demam sebagai rajukan.
Dengan hati
berbuncah senang dan riang, malam itu sekeluarga kami berangkat ke Ancol. Dalam
angan, aku sudah membayangkan berfoto dan bersalaman dengan jagoan idaman. Sedikit
kecewa sebab berbeda dari iklan yang kulihat di televisi, ternyata bukan Kotaro
Minami sendiri yang datang ke sini! Motor Belalang
Tempur pun hanya berputar-putar di atas panggung. Tak ada aksi atraktif dan
eksplosif. Kelak aku ketahui, yang ditayangkan di TV hanyalah cuplikan dari film
seri. Mimpiku boleh terkubur, tapi orang tua dan adikku memeluk menghibur,
hingga hatiku tak jadi hancur. Akhirnya aku menertawakan diriku sendiri. Setelahnya
kami berkeliling lagi. Memasuki Lorong
Sesat berliku penuh kaca di sana sini, saling tabrak mobil senggol di arena
Baku Toki, naik kuda komedi Turangga-rangga dan berputar tiga kali, aku
berangsur gembira, kecewa lupa, sudah tak sedih lagi.
SEKARANG
Hari berganti. Waktu
terus berlalu. Sahabat datang dan pergi. Teman-teman sepermainan yang dulu
bertamasya bersama kini sudah rata-rata berkeluarga. Tapi Ancol tetap setia
menanti untuk kami kembali ramai kunjungi, tentunya bersama keluarga lintas
generasi. Ancol masa kini, seperempat abad sejak pertama kali aku kunjungi, telah
berkembang pesat hingga menjadi pusat hiburan terbesar di Indonesia. Dunia Fantasi terus inovatif berkreasi, menambah
wahana baru dan atraksi. Jika dulu hanya ada delapan kawasan menyajikan wahana
permainan berteknologi tinggi, meliputi kawasan Indonesia, Jakarta, Asia,
Eropa, Amerika, Yunani, Hikayat dan
Balada Kera, kini Dufan semakin lengkap dengan sarana edutainment seperti Fisika
Dunia Fantasi (Fidufa) maupun Pentas
Prestasi. Wahana terbaru Dufan, Treasure
Land: Temple of Fire, diluncurkan 15 Desember 2012, menyajikan live action stunt show spektakuler
bertabur spesial efek, tentang arkeolog Oklahoma Smith memburu harta karun
artefak kuno Suku Inca, dengan misi memperkenalkan arkeologi sebagai disiplin
ilmu yang menarik dan penuh dengan tantangan. Bertempat di Panggung Maxima,
aksi berdurasi 25 menit ini dipentaskan dua kali setiap hari biasa, dan tiga
kali sehari pada hari libur atau akhir pekan.
Gelanggang Samudra yang dulu kerap mementaskan
atraksi lumba-lumba sekarang berevolusi menjadi Ocean Dream Samudra, rumah yang nyaman bagi pertunjukan memukau
beraneka satwa. Taman Rekreasi Air Gelanggang
Renang pun bak disulap kini tampil dengan wajah baru, Atlantis Water Adventure,
menawarkan bervariasi sensasi petualangan seru dan menegangkan, bermain air semakin
menyenangkan. Sea World Indonesia yang
menempatkan diri sebagai sahabat biota perairan tawar dan air laut terus melengkapi
ribuan koleksi, khazanah elok kekayaan bahari serta keanekaragaman hayati. Tak
hanya menjadi ajang rekreasi yang menghibur, Sea World juga mendidik tanpa menggurui, dan mengajak kita lebih
mencintai alam dengan melakukan konservasi. Selain itu, kini Ancol juga punya EcoPark. Lahan terbuka hijau hasil revitalisasi
lapangan golf ini dimaksudkan untuk area wisata edukasi, antara lain melalui Learning Farm, mengajak pengunjung
terutama anak-anak bertani dan berkebun serta menanam sayuran. Masih di EcoPark, Ancol juga punya wahana atraksi
malam di Fantastique Multimedia Show,
menggabungkan teknologi tinggi 3D mapping
dan water fountain dengan setting
panggung extravaganza seperti benteng kerajaan serta kanal dan kapal, sejumlah
50 penari dan pemain teater siap menggebrak melalui kisah legenda Nusantara,
yakni “Timun Mas dan Buto Ijo”.
Mengagumkan. Ini
pengakuan jujur seseorang setelah lama tak mengunjungi sahabat lamanya, turut
bangga menyaksikan kemajuan yang telah dicapai. Tentunya Ancol tak boleh
terlena dan lengah, harus terus berbenah dan mempercantik diri. Ngomong-ngomong soal cantik, sekarang aku
sudah tahu, lho! ‘Cantik’ itu… Ehm… Seperti istriku! Intermezzo… Seiring usia semakin dewasa, Ancol tak henti bermimpi dan
mewujudkan impian. Kian matang dalam menyambut tantangan masa depan. Mimpi
adalah harapan. Visi adalah visualisasi dari mimpi yang menanti perwujudan.
Memasuki tahun baru 2013, Ancol mengidamkan diri menjadi “Ikon Wisata Edukasi”. Aku yang merasakan turut tumbuh bersama
Ancol tentu ikut senang, mengapresiasi. Sebab itu berarti Ancol dapat
memberikan manfaat lebih bagi para pengunjung setia.
Tulisan seringan
permen kapas ini bertujuan menggeliatkan semangat dan memberi “permen” sebagai
suplemen inspirasi. Mungkin akan ada rasa
“mengezutkan”, seperti permen populer masa kecil, “Nano-Nano” memadukan rasa manis-asam-asin, atau permen “Pop Rock” meledak di mulut. Meski
sensasinya cukup mengagetkan, permen-permen itu diminati oleh anak-anak. Karena
aku menganggap Ancol sebagai sahabat masa kecil yang tumbuh besar bersama, aku
merasa ada keterikatan emosi dan keterkaitan batin, seirama menyaksikan dinamika
perkembangan serta kemajuan Ancol.
Maka, mari kita bicara, sebagai teman yang bertemu
kembali saat sudah sama-sama dewasa.
Sahabatku,
Ancol…
Aku tak akan
lagi menggunakan kata “Aku”, melainkan “Saya”, karena menanggalkan “keakuan”
adalah salah satu ciri manusia dewasa, yang matang dan tak sekedar bertambah
tua. Baiklah. Sebagai sahabat, kita terbiasa jujur mengungkapkan isi hati. Dan
jeritan ini mewakili suara pengunjung lainnya. Terus terang ada yang sedikit mengganjal
dan perlu disampaikan, karena saya merasa ini penting untuk kebaikan juga
perbaikan, dan supaya tidak ada duri di antara kita. Apa yang diutarakan bukan
lantaran benci, dengki, ataupun iri hati, melainkan karena rasa sayang serta
peduli.
Ada sedih
menggelayut. Ada sepi yang mengisi relung hati. Rasanya seperti, tahu khan,
jika ada teman bermain kita yang sekarang sudah sukses, lantas jadi menjaga
jarak dari teman lamanya? Atau kesuksesannya itu yang justru membuat teman-teman
memilih menjauh darinya. Saya katakan, rasanya.
Bukan itu yang benar-benar terjadi. Mungkin samar, bahkan tidak terlihat, tapi
percayalah, terasa! Ada semacam barrier yang tak tampak. Ada semacam
perang dingin di udara merebak. Satu demi satu teman lama pergi. Lama-lama Ancol
kian sepi, ditinggal sendiri. Rasanya tak mengenakkan. Sebagai sahabat, ada
saatnya kita bicara dan tidak lagi berdiam.
Saya bukan dari
manajemen Ancol. Saya juga tidak tahu alasan apa saja yang mendasari semua
keputusan penting yang diambil hingga Ancol menjadi besar seperti sekarang.
Tentu keputusan-keputusan itu diambil untuk alasan-alasan baik lainnya. Hanya
saja, tiap keputusan bukan berarti bebas masalah. Sebab, Ancol bukan Pegadaian
yang slogannya “mengatasi masalah tanpa masalah”. Meski demikian, jangan takut
mendapat masalah, sebab masalah hadir untuk dicarikan solusi dan kita atasi.
Jika boleh berandai
menganalisa, dari kacamata pengunjung awam seperti saya, masalah yang utama tampaknya
berkisar di seputar BIAYA. Tak dapat dipungkiri, untuk menciptakan “DUNIA”
impian seperti Ancol tentu dibutuhkan banyak
sekali biaya, mulai dari biaya pembangunan, pengembangan, pemeliharaan, hingga
operasional sehari-hari. Di samping itu, dengan status kepemilikan saham 72%
oleh Pemda DKI Jakarta, 18% oleh PT Pembangunan Jaya dan 10% oleh masyarakat,
Ancol yang go public pada 2 Juli 2004
dituntut meningkatkan kinerja perusahaan dan terus tumbuh secara sehat, dengan
kata lain, harus pula menghasilkan keuntungan untuk pengembangan dan
kemajuannya di masa mendatang.
Masalah
sepertinya terletak pada pilihan strategi.
Pada satu sisi, high cost menuntut high return yang mau tak mau harus
ditutupi. Cara cepat menuju Break Even
Point adalah dengan membebankan sebagian biaya kepada pengunjung melalui
peningkatan signifikan harga tiket masuk (HTM), misalnya, Dunia Fantasi sebagai theme
park pertama, terbesar dan terlengkap di kawasan Ancol. Cara lain bisa dengan
mengembangkan investasi, tapi perputaran dengan cara ini tentu saja butuh waktu
untuk menghasilkan. Meski ada banyak cara lain yang dapat dicoba, jalan pintas menaikkan
HTM tampaknya cukup menggoda. Walau pilihan yang sulit, langkah inilah agaknya
yang diambil oleh manajemen Ancol.
Tiap pilihan
yang diambil pasti punya alasan, seperti ia juga memiliki konsekuensinya
sendiri. Pihak manajemen tentu memiliki hak prerogatif untuk menentukan
kebijakan perusahaan yang dikelola mereka. Meski demikian, bagi Ancol sendiri, keputusan
membebankan sebagian biaya pada pengunjung berdampak mengurangi jumlah
pengunjung, terutama yang sebelumnya setia, jadi harus berpikir sekian kali
sebelum memutuskan pergi ke Dufan, karena keberatan dengan tingginya HTM.
Terakhir seingat saya, lima tahun lalu HTM Dufan masih sekisaran dua puluh lima
ribu Rupiah, sekarang sudah sepuluh kali lipat, bahkan lebih! Dua ratus tiga
puluh lima ribu Rupiah di hari kerja, dan menjadi dua ratus enam puluh lima
ribu Rupiah di hari libur, bukan jumlah yang sedikit, bahkan untuk harga tiket satu
orang!
Bayangkan apa yang
dipikirkan oleh seorang ayah jika keluarganya mengajak piknik ke Dufan. Mungkin
masih terjangkau untuk istri dan satu anak. Bagaimana dengan dua atau tiga
orang anak, atau lebih berat lagi, jika ada sanak famili dari kampung berkunjung
dan ingin sekali berlibur ke Dufan? Untuk lima orang saja sudah menguras kocek dan
mengosongkan saku sang ayah lebih dari satu juta Rupiah! Berapa yang harus
dibayar untuk HTM sepuluh orang? Bisa-bisa langsung habis satu bulan gaji
karyawan biasa, dalam satu hari saja! Sebuah harga yang “MAHAL” untuk sekali
masuk taman bermain! Bahkan untuk taman luar biasa selengkap Ancol! Bisa-bisa,
pulang dari Dufan, kantong ayah bolong. Motor kehabisan bensin pula, terpaksa
didorong. Duduk lunglai di pinggir jalan, kipas-kipas, gigit jari meringis. Di
hati menangis sambil bernyanyi “Butiran Debu”, di tanah benar-benar mengais
debu.
Maka muncul
pertanyaan, segmentasi pengunjung
seperti apa yang disasar oleh manajemen Ancol? Apakah hanya untuk kalangan
menengah ke atas yang mampu membayar lebih, atau untuk semua golongan dan
segala umur dengan kemampuan minimum terbatas? Suatu produk unggulan tak mesti selalu
dinilai dari harga yang mahal. Yang
lebih bernilai dan berharga adalah jika produk tersebut bisa memberikan nilai tambah berupa manfaat bagi
penggunanya. Adapun yang lebih tak ternilai adalah tingkat kepuasan yang dirasakan. Maka jika pengunjung menjadi puas sepulang
mereka mengunjungi Ancol, benar-benar puas tanpa diembeli keluhan menyayangkan,
misalnya harga HTM yang mahal, itu adalah worthed
value yang semestinya dicari oleh pihak manajemen Ancol.
Mengkritisi itu
mudah. Yang sulit dilakukan tetapi lebih baik adalah memberikan solusi. Terkait
masalah tingginya HTM, sebenarnya Ancol sudah pernah menerapkan langkah yang
menurut saya bisa menjadi jalan keluar. Seingat saya, dulu ketika wahana Arung Jeram yang lebih menantang
daripada Niagara diluncurkan, hampir
bersamaan dengan wahana Rama dan Sinta,
antrian pengunjung di kedua wahana baru itu membludak, mengular sampai setengah
kilometer! Lebih heboh lagi saat Halilintar
dan Tornado diluncurkan. Saya
sendiri pernah mengulang naik Halilintar sampai dua putaran berturut-turut,
saat mendampingi seorang advisor dari
Jepang. Saya perhatikan, pengunjung rela berpeluh ria meskipun harus membayar
tiket tambahan dengan harga terpisah. Barangkali hal ini dapat dijadikan
alternatif solusi. Alih-alih mengenakan biaya HTM tinggi untuk menikmati semua
wahana, mungkin lebih efisien jika biaya masuk Dufan dipatok standar dan
terjangkau, katakanlah seratus ribu Rupiah, dan untuk wahana tertentu yang
sekiranya menarik minat banyak pengunjung, dapat dikenakan biaya tambahan. Saya
percaya cara begini lebih efektif untuk mendulang pengunjung dan mengundang teman-teman
yang lari itu mendekat kembali. Bagaimanapun, tentu tidak semua wahana yang ada
akan dicoba satu persatu dinaiki. Bahkan untuk mengunjungi semua kawasan bisa
jadi tidak selesai dalam sehari. Maka kurang tepat rasanya jika menerapkan
sistem seperti “All You Can Eat”.
Biarkan pengunjung “memakan” sajian yang sesuai dengan seleranya saja, tak
harus dipaksa menelan semua hidangan di atas meja.
Dengan HTM senilai
seratus ribu Rupiah, wahana yang “biasa” saja pun sudah cukup dapat memuaskan, atau
melelahkan sebab terlalu banyak wahana untuk dikunjungi. Adapun tiket tambahan
untuk wahana “luar biasa”, semisal dipatok seharga di atas tiga puluh ribu hingga
maksimal lima puluh ribu Rupiah, saya pikir masih akan dinilai “terjangkau”
serta dapat dimaklumi. Jika tak hendak menaiki wahana istimewa itu pun pengunjung
tak harus membayar untuk sesuatu yang tidak dinikmati, sehingga mereka tetap
nyaman dan tidak merasa dirugikan. Prinsipnya, seperti pada Pajak Pertambahan
Nilai, untuk setiap pertambahan nilai dapat dikenakan PPN. Tiap tambahan
kepuasan wajar mensyaratkan biaya ekstra. Tapi jika pengunjung puas, mereka
akan membayarnya dengan sukarela, karena sudah merasa sukacita. Dengan cara demikian,
Ancol akan merasakan dampak yang lebih positif. Pemasukan laba tetap banyak,
perputaran juga tetap tinggi. Pengunjung tetap membludak, target dapat
terpenuhi.
Seperti wahana Perang Bintang yang menyajikan imajinasi
ke dalam visualisasi tiga dimensi, terlihat seolah-olah nyata padahal virtual,
dalam ilmu Marketing, seperti itu
pula pertempuran image terhadap suatu
brand. Pertempuran sesungguhnya bukan
adu harga di dunia nyata, melainkan di dalam benak pelanggan! Salah satu hukum
dasar pemasaran menandaskan: ”The battle
is in the mind of the customer”. Maka siapa yang dapat memenangkan persepsi
pelanggan, dia akan mengambil keuntungan lebih darinya. Meski jika dikalkulasi
harga yang harus dikeluarkan oleh pengunjung relatif tak berbeda jauh, namun
dengan menciptakan persepsi bahwa
dirinya telah diuntungkan dengan HTM
yang tak terlalu mahal, masih dapat menikmati aneka macam wahana, mereka akan
dengan sadar dan rela mengeluarkan biaya lebih untuk dapat menikmati tambahan penawaran
yang dinilai sebanding dengan harga yang harus dibayarkan.
Maka terus
terang saya jadi sedih menyaksikan kini sahabat saya, Ancol, yang semula sepertinya
“jual mahal” kini terkesan menjadi “banting harga” dengan menawarkan program
diskon besar-besaran hingga 50%, hampir di tiap kesempatan, dan di banyak
tempat. Diakui atau tidak, ini yang terlihat. Ancol seperti frustrasi menggaet
kembali “cinta” teman lama, para pengunjung yang semula setia, namun kini sudah
terlanjur mutung, bahkan mulai berpaling ke “taman sebelah” dengan HTM yang
lebih rendah, tapi menawarkan keunggulan dari segi kenyamanan indoor dan tentunya pengalaman baru dengan
impresi berbeda dari Ancol.
Maaf, Sobat.
Tapi betul, itu yang terjadi. Suka atau tidak suka, harus diakui. Meski kau
tambah beraneka atraksi dan wahana, sulit untuk mengobati hati yang sudah
kecewa. Dan bagi kami, saat ini jika mengunjungi Ancol, kami bagai melihat diri
kami di masa kanak-kanak dulu, yang hanya bisa menatap gemerlap Dunia Fantasi dari luar pagar dengan
tatapan sedih dan memelas sembari mengurut dada. Menyayangkan besarnya biaya
untuk masuk Dufan, dan sulitnya membahagiakan anak-anak kami yang merengek penuh
harap ingin bermain di sana, tapi orang tuanya terbentur biaya. Sudahlah jangan
sesali. Yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran. Jangan patah semangat atau
berduka! Belum terlambat untuk mengubah citra serta membina hubungan lebih baik.
Introspeksi, sadari, pahami, lalu perbaiki!
Yakinlah, usaha
sungguh-sungguh dapat merajut lagi harmoni. Yang penting ada upaya dari Ancol untuk
menjangkau dan merengkuh kembali. Suatu saat jika merindu masa dulu, tentu
mereka kembali ingat. Saat mereka kemudian melihat, dengan usaha gigihmu, kau
kembali layak untuk dicintai, cinta lama dapat kembali bersemi. Seperti judul
lagu hits Dewa19 di tahun sembilanpuluhan, “Cinta
Kan Membawamu Kembali”, Ancol yang pernah singgah di hati, selayaknya tetap
dicintai.
MASA MENDATANG
Mengawali tahun
baru 2013, Ancol menggebrak dengan membuka sejumlah theme park dan wahana baru. Mengubah lapangan golf menjadi lahan
terbuka hijau EcoPark adalah langkah
strategis dalam menerjemahkan visi menjadikan Ancol ikon wisata edukasi. Kini
pengunjung tak sekedar datang ke Ancol untuk rekreasi, tapi juga dapat aktif
berkreasi! Seperti catatan President
Letter Ancol 2013: “Create Or Die, Time
to Change!”, menjadi kreatif serta inovatif adalah sebuah keharusan! Jika
tidak ingin mati, Ancol harus terus berkreasi membuat terobosan-terobosan baru
yang lebih segar.
Inilah saat
tepat untuk berubah dan membuat perubahan bersejarah! Meski demikian, tetap jangan
lengah! Investasi besar-besaran yang telah dan tengah dilakukan untuk mengubah
wajah Ancol menjadi Ancol baru yang lebih edukatif dan ramah lingkungan
hendaknya didukung program-program unggulan yang memang potensial dikembangkan
dan positif bakal diminati oleh para pengunjung yang datang. Jangan sampai
terjadi, sudah habis-habisan menyiapkan lahan, tapi tetap saja pengunjungnya
sepi, lantaran program yang ditawarkan kurang menarik, tak cukup membuat
melirik, atau kembali lagi ke masalah klasik, biaya HTM yang tinggi mencekik.
Pola pikir klise
masyarakat di Indonesia sesuai doktrin prinsip ekonomi, bagaimana dengan biaya
sekecil-kecilnya dapat beroleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Atau dengan
bahasa sederhana, jika bisa gratis, mengapa harus bayar? Mau bermain saja kok
harus bayar? Mau belajar sambil bermain, juga masih bayar? Jika demikian, lebih
baik belajar di rumah saja, atau bermain di kampung, di lapangan dan pinggir
selokan saja. Tidak ada bedanya! Jika EcoPark
diharapkan menjadi seperti kampung wisata yang turun ke sawah atau masuk ke desa,
lupakan saja! Ide seperti itu sudah banyak yang mencetus dan mewujudkan! Jangan
gunakan ide yang pernah ada! Jangan menjiplak, jangan jadi pengekor! Orisinalitas adalah kata kunci dan magic word suksesnya! Bukan berarti
harus membuat sesuatu yang tak pernah ada, tapi bagaimana memanfaatkan apa yang
ada untuk menuangkan ide-ide segar yang belum pernah dicoba! Seperti hukum
pemasaran yang lain, “Be The First in
Mind”, buatlah sehingga selalu tertanam dalam benak siapa saja, “Wisata Edukasi Hijau” itu identik Ancol!
Bukan misalnya sebutlah Kampung Wisata Cinangneng, Taman Bunga Nusantara, Taman
Buah Mekarsari, atau Kandank Jurank Doank!
Jadi, gagasan
orisinil apa saja kira-kira yang akan lahir, setelah Ancol menyulap lahan
terbuka hijau seluas 35 hektar menjadi EcoPark?
Tentunya banyak yang bisa dilakukan! Salah satu alat menjaring ide segar
tersebut telah dilakukan dengan tepat oleh penyelenggara “Lomba Foto dan Penulisan Ancol 2013” dengan melibatkan masyarakat
sebagai stakeholder sekaligus end-user. Lomba foto meng-capture objek dan kegiatan yang bisa
dilakukan di kawasan Ancol. Lomba penulisan menggali pendapat dan mendengarkan
“curhat” dari masyarakat yang menghendaki Ancol yang lebih baik. Menurut saya
adalah hal yang luar biasa, Ancol mau mendengar dan menerima masukan dan saran
langsung akan apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan oleh para pemerhati
dan pencintanya. Diharapkan, berdasarkan kepedulian teman-teman tersebut, Ancol
dapat membuat catatan perbaikan untuk perubahan ke depan yang jauh lebih
menjanjikan serta memuaskan bagi semuanya.
Berbicara
tentang menuangkan ide, dalam benak saya, masih banyak yang bisa dilengkapi
dari program yang diluncurkan EcoPark
yang dinilai sudah baik, seperti mengajak masyarakat, terutama anak-anak
generasi sekarang, untuk turun ke sawah, belajar bertani dan bercocok tanam. Disayangkan
anak-anak zaman ini selalu mendapatkan segala sesuatu dengan mudah serta dengan
instan. Mereka jadi kurang peka dan kurang memahami sulitnya berusaha memperoleh
dan menghasilkan sesuatu. Diharapkan dengan Ecopark
memberi pemahaman memadai, mereka jadi bisa menghargai jerih payah petani,
mulai dari proses menanam, menyiangi, hingga memanen padi yang memakan waktu
berbulan-bulan baru menikmati hasilnya. Mengenalkan pada anak-anak asal mula
nasi yang tiap hari dimakan, sehingga butir bernas hasil bulir keringat dan
cucuran air mata itu tidak mereka buang dan sia-siakan setiap kali makan. Mungkin
tambahan unsur dongeng rakyat misalnya “Dewi
Sri” bisa pula disampaikan oleh pemandu dengan cara asyik dan menarik. Bisa
dengan alat bantu wayang kulit atau wayang golek atau wayang potehi, apapun bentuknya,
dibuat menggugah minat, mencetuskan inspirasi.
Ecopark dapat membuat Saung Seni Peduli. Selain sebagai tempat
rehat dan singgah sejenak setelah berjalan-jalan berkeliling luas taman, di saung
itu pengunjung dapat menonton sang dalang atau pendongeng beraksi, menjelaskan
pentingnya menanam pohon bagi anak cucu, melakukan penghijauan, merawat tanaman
dengan konservasi, memberi pupuk alami, menghindari pestisida. Di sudut lain
bisa juga disiapkan Saung Layani Sendiri.
Saung untuk bakar jagung yang dipetik sendiri oleh pengunjung usai belajar
berkebun. Memeras jeruk dan memarut kelapa, lalu dibuat limun atau es degan,
lebih nikmat lagi dibuat sop buah. Mengajarkan anak berlatih mandiri hingga
dapat menikmati jerih usaha sendiri. Adakan pula saung untuk mendaur nilai
tambah suatu makanan serta mengajarkan cara pembuatannya, sebutlah Saung Kreasi dan Produksi , misalnya
sagu yang diolah hingga jadi penganan, atau tebu diperas jadi minuman, yang semuanya
dapat ditebus dengan cuma-cuma, atau dengan “harga rakyat”.
Untuk pilihan aktivitas,
selain permainan teamwork yang cerdas
dan mendorong kerjasama dan kekompakan kelompok, adakan pula kegiatan untuk individu
dan keluarga. Selain kawasan outbound,
Ecopark dapat pula menyediakan area
khusus memancing. Tentu perlu dipersiapkan lokalisasi tambak, dimana pengunjung
bisa mengail atau menjala, bahkan menggoreng dan membakar sendiri ikan yang
ditangkap di alat panggang yang disediakan di seputar area. Tentu pengunjung
wajib untuk menjaga kebersihan. Adakan pula lomba tematik dengan pesan menjaga
kelestarian alam. Tak ketinggalan hadiah menarik atau kejutan, jadikan tanda
mata yang berkesan dari EcoPark. Selain
menambah keakraban dengan teman atau keluarga, ragam aktivitas ini juga menciptakan
kesenangan yang nilainya tak terbeli dan tidak terganti. Tentu akan lebih
menyenangkan lagi, jika untuk mendapatkan itu semua tak harus mengeluarkan
biaya tinggi. Jangan sampai minat menggebu di rumah, jadi surut tertahan di
pintu masuk menyaksikan papan harga, atau karena anggota kelompok kurang dari
25 jumlahnya. Sekali lagi, masalah segmentasi. Apakah EcoPark hanya diperuntukkan bagi rombongan dalam jumlah besar, dan
keluarga kecil yang bahagia jadi terhalang dari niat mulia hendak mengajarkan
anak-anaknya bermain dan belajar ceria di EcoPark?
Tetapkan pilihan dengan bijaksana. Dengarkan dan biarkan hati bicara.
Selain EcoPark dimana disewakan pula sepeda
santai, golf car, dan segway bertenaga baterai sebagai sarana
olahraga ringan menyehatkan, dilengkapi track
semi-offroad untuk mereka yang gemar memacu adrenalin, Ancol juga berencana
membuka Epic Cable Park di bulan
September kelak. Wahana baru ini mengusung misi memperkenalkan wakeboard, seperti skateboard, namun dilakukan di atas air, serta ditarik dengan
kabel, tidak lagi dengan speedboat,
sehingga dapat lebih ramah lingkungan serta hemat bahan bakar. Yang perlu
diperhatikan, meski diklaim kedua wahana tersebut akan menetapkan harga terjangkau,
Ancol tetap masih harus menyediakan kawasan umum terbuka yang bebas dinikmati pengunjung
dengan bebas tanpa biaya, memperhatikan kenyamanan serta didukung fasilitas
penunjang yang lengkap memadai, tidak seadanya saja. Jangan ada ketimpangan
antara kawasan berbayar dengan kawasan rakyat, antara yang berada di dalam
pagar dengan yang terhalang oleh pagar kawat.
Sebagai catatan
tambahan, hendaknya Ancol jangan terpaku hanya pada satu taman tematik saja.
Masih banyak yang bisa dikembangkan di kawasan yang dulunya hutan bakau,
rawa-rawa, serta kerajaan monyet liar ini. Meski barangkali tak lagi menjadi
daya tarik yang utama, kawasan pantai tetap menjadi tujuan favorit rekreasi. Seperti
slogan resminya, Ancol memang sebenar-benarnya Jakarta Bay City! Tapi tak cukup sekedar digembar-gemborkan,
implementasi slogan harus dipertanggungjawabkan. Sebagai kota pelabuhan, Ancol
memiliki lima buah kawasan pantai, dari Festival,
Indah, Elok, Ria, hingga Carnival.
Namun sejujurnya, saya dan mungkin pengunjung lainnya hampir tidak bisa
membedakan ciri atau kelebihan apa yang ditawarkan oleh masing-masing pantai. Tak
ada konsep yang jelas. Apa sich bedanya Pantai Indah dengan Pantai Elok, atau dengan
Pantai Ria? Bagi kami, pantai ya pantai, kawasan pesisir sepanjang garis
pertemuan daratan dengan lautan. Semua pantai kami susuri dan tampak serupa. Hanya
Pantai Festival yang masih bisa ditandai, sebab kerap digunakan untuk pementasan
dalam skala sedang dan tidak terlalu besar, seperti pernah saya dan teman-teman
kunjungi dan turut berpartisipasi dalam Festival
Band Se-Jawa-Bali sekitar tahun 2005. Saya waktu itu memainkan keyboard, dan kami membawakan lagu
sendiri.
Kita kembali ke
pantai. Kawasan ini pun mestinya tak luput atau tertinggal dari perhatian dan
pengembangan. Tak cukup hanya membuatkan Promenade,
fasilitas jogging track, bersepeda
dan jalan sehat. Masalah terutama di sepanjang pantai Ancol masih menyangkut kebersihan.
Banyaknya sampah akibat limbah dari 13 sungai besar di Jakarta dan sekitarnya
yang bermuara di pantai utara membuat air laut jadi keruh dan kotor hingga
tidak nyaman dipandang dan kurang layak digunakan berenang. Selain itu, keseimbangan
alam terganggu dan ekosistem jadi rusak. Hal ini tentunya sangat disayangkan. Perlu
dilakukan revitalisasi dan normalisasi pantai. Sebab bagaimanapun, sejak zaman
Benyamin Sueb nonton bioskop hingga Rhoma Irama lari pagi, dan Warkop DKI
syuting film komedi di Bina Ria, hingga sekarang Ancol tetap identik sebagai Wisata
Pantai! Kami merindukan pantai Ancol yang bersih dan nyaman. Jika dulu pantai
Ancol terkenal sebagai wisata yang murah meriah dan menyenangkan, bagaimana
sekarang?
Ini sekedar uneg-uneg dari sahabat lama. Jika tak
berkenan, tolong jangan dimasukkan hati. Tulisan dariku, Sobat, semoga menjadi
cambuk yang menyentak! Dapat membuat yang tidur terhentak, serta yang terlena terhenyak!
Jika disikapi bijaksana, sebuah cemeti yang mencetar bukanlah hukuman,
melainkan pecut yang melecut kinerja supaya jadi lebih baik lagi! Meminjam
istilah dari pelantun tembang Syahrini, semoga curah hati sahabat ini dapat menjadi
sebuah “CETAR” yang dapat menjadikan Ancol semakin “MEMBAHANA” di masa
mendatang! Ancol…?! Selalu… “SESUATU”! Semoga sukses!!! :)