Rabu, 30 Januari 2013

Es Cendol Campur Degan



ES CENDOL CAMPUR DEGAN
(E-S’buah Cerita Nyeleneh, Dodol, Campur seru & bikin Deg2an, Ah Maca Ciyyy? ^^;)
Ki Dalang Dhimas Wisnu Mahendra

Inspirasi mendekat mesra padaku sore hari...
Mungkin karena pengaruh candikala, atau karena aku sudah tak begitu disibukkan oleh dunia, hingga dapat luangkan secuil waktu tuk merangkai untai kata, atau barangkali sebab suasana sepi seiring merayap malam mendukung untuk bercengkerama dan jujur bercurah rasa, berbicara polah isi hati dan gejolak jiwa...
Duhai Dinda Dewi, Puteri Permata Bidadari...
Katakan lagi padaku satu mimpi!
Agar dapat kubangun Seribu Candi malam ini... ;)
[BANDUNG BANDAWASA Mode On!]
Wkwkwkwk... ;p~
***
Malam Pertama.
Pujangga bolehlah pandai bersyair, tinggi gunung 1000 janji. Sebuah upaya menepati janji, janji agung dari calon raja kepada yang diharapkan menjadi calon permaisuri. Pembuktian kesungguhan rasa cinta, kerja besar adikarya, membangun 1000 candi megah dalam 1 malam adalah prasyarat musykil, suatu hil yang mustahal, namun cinta adalah sumber kekuatan dengan daya luar biasa, mengubah yang sepertinya tak mungkin sekalipun menjadi mungkin. Apakah itu mungkin? Mbuh yo! Baiknya kita saksikan saja... Mariiii!! ^^;
BANDUNG BANDAWASA, putera mahkota dari kerajaan Pengging mantap menyanggupi syarat yang diajukan oleh RARA JONGGRANG, sang puteri dari kerajaan Boko yang ditaklukkan oleh kerajaannya. Menghormati sang dewi pujaan hati, mencoba merebut hatinya tidak dengan paksaan tapi dengan ketulusan cinta yang berkobar-kobar, segera setelah surya tenggelam memasuki peraduannya, tak menyia-nyiakan waktu, Bandung Bandawasa memberi perintah kepada para prajurit bawahannya! Ribuan siluman dan manusia bekerja lembut hingga keras, bata demi bata, membangun prasasti kemegahan cinta! Detik demi detik begitu berharga. Bulir-bulir keringat membanjiri pondasi susunan batu bertumpuk di atas tanah merah yang semakin tinggi. Waktu yang hanya semalam terasa begitu lama, semua giat bertenaga bekerja. Bandung berdiri berkacak pinggang beri komando dengan gagahnya!
Di sana gunung, di sini gunung! Di tengah-tengah Pantai Senggigi! Lho, itu khan di Lombok, Ki? ^^; Si Bandung bingung, proyeknya nanggung, padahal kurang 1 candi, eh… Udah pagi?!
KUKURUYUUUK!!! =D~
“Kau gagal Bandung! Maaf, aku tak sudi menjadi istrimu!” Tentu saja, sebab Bandung telah membunuh ayahanda tercinta! Tapi Bandung Bandawasa tak bisa terima! Selidik punya selidik, menjadi murkalah ia mengetahui siasat Rara Jonggrang yang memerintahkan para emban abdi setianya untuk memukulkan alu pada lesung dan menipu ayam jantan agar mengira pagi tlah tiba, pagi tlah tiba! Hore! Hore! Hore! ;p Maka berkokok ayam siwalan tak bersalah itu, masih lagi pukul tiga dini hari!
Tak terbendung amarah dan kekecewaan, Bandung yang kalap murka mengutuk Rara Jonggrang dengan kesaktiannya, saat itu juga berubah menjadi candi ke-1000! Melengkapi 999 candi yang telah berhasil dibangun sejauh itu hanya dalam 1 malam! Begitulah asal mula hikayatnya. Ke-1000 candi itu konon kini bisa QT kagumi sebagai Candi PRAMBANAN!!! =D~ Tentu saja tak sampai 1000 buah, tapi sama seperti Pulau Seribu, siapa juga yang kerajinan mau menghitungnya? ^^;
Sementara ayam yang malang juga kena getahnya, dijatuhi supata alias kutukan menjadi candi lain tak jauh dari gusti ayunya sebagai Candi Jago!... Tapi bo'ong! ^^; Wkwkwkwk! =D~ Babad konon caritera dan jangan dibalik, dari sinilah kisah kita berawal! ;p~
***
Alkisah, Bandung Bandawasa yang kecewa tak kesampaian cintanya kemudian memutuskan mengembara ke arah Barat pulau Jawa hingga tibalah ia di Bumi Priangan! Di sana dia terpikat pada kesejukan alam dan panorama yang indah. Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengah ada kebun teh. Bandung Bandawasa lalu memutuskan menetap dan mendirikan kerajaan kecil baru miliknya sendiri yang bernama ibukota seperti namanya: BANDUNG...
Sementara Rara Jonggrang yang telah menjadi candi terus menangis tiap siang dan malam, tapi pagi dan sorenya istirahat ^^; sehingga Dewata Agung lama-lama jadi iba, berkenan mengabulkan permohonannya. Tak langsung dibebaskan sich, tapi masa kutukan sepanjang masa mendapat grasi pada Hari Kemerdekaan, dimana tiap tahun selama 6 jam di Yogya, sebelum Serangan Fajar, sejak tengah malam hingga pagi tiba, ia bisa bernafas lega dan kembali sebentar ke wujud aslinya, tapi tetap tak boleh kemana-mana sebab jika dia nglayap dan terlambat pulang hingga matahari bersinar, tubuhnya akan hancur meleleh seperti es serut cendol campur degan yang mencair terkena garam terbakar terik sinar sang mentari, nach lho, uda kaya vampir aja! ^^; Kecuali, jika ia telah bertemu jodohnya! =)
Maka sebelum cerita ini semakin tidak jelas diacak-acak, Rara Jonggrang bersumpah: Barangsiapa yang bisa membantunya menangkap Ki Dalang Gemblung yang merusak jalan cerita (lho koq jadi malah dendem ama gue? ;p~ Dziiing kabooor!!! ^^;) dalam 6 jam masa tenggang bebasnya mulai tengah malam nanti hingga besok fajar pukul 6 pagi, jika dia wanita akan dijadikan saudari, jika laki-laki menjadi suami! Petir menyambar-nyambar, kilat gemuruh menggelegar. Ternyata yang bersedia menolongnya adalah seekor anjing yang mengaku bernama Tumang, yang berhasil membuatku yang tengah asyik mendalang jadi ngibrit, lari kencang jumpalitan, pontang-panting jatuh-bangun tunggang-langgang, hingga akhirnya tergigit dan diseret dengan paksa ke hadapan Rara Jonggrang! T_T Untung Rara Jonggrang baik, aku hanya dihukum setiap malam wajib mendongeng dan menghibur dirinya! Maka disinilah aku, melanjutkan bercerita, seperti puteri Syahrazad mendongeng kisah 1001 malam pada raja, mulai dari malam pernikahan Rara Jonggrang dengan si Tumang sampai kira-kira... Tiga tahun ke depan! T_T
Tapi benarkah setragis itu nasib Rara Jonggrang, seorang puteri raja yang terlunta-lunta menikah dengan seekor anjing hina? Tentu saja tidak! Karena si Tumang pejantan setia, meski wujudnya anjing tetapi sakti lagi berhati mulia. Ia tak tega mengambil madu untuk istri yang dicintainya, Dayang Sumbi yang berwujud manusia, betapapun Rara Jonggrang mendesak untuk dijadikan istri keduanya, bagaimanapun ia terikat sumpah. Akhirnya si Tumang mengambil jalan tengah, tetap dinikahinya Rara Jonggrang tapi tidak digauli, setelah ijab qobul langsung ditalak, kemudian dijodohkan dengan puteranya yang baru beranjak dewasa: SANGKURIANG... =)
Demi melihat pemuda tanggung nan gagah dan tampan, hati Rara Jonggrang pun berbunga-bunga, ia telah jatuh cinta, tak peduli Sangkuriang itu brownies alias brondong manis. Toh ia juga tak melanggar sumpahnya, berkat kebijaksanaan si Tumang, akhirnya Rara Jonggrang pun menikah dengan Sangkuriang, yach ga beda-beda amatlah ceritanya, kaya Yoko ama bibi Lung, atau Raffi Ahmad ama Yuni Shara, daripada kawin ama ibu sendiri di cerita aslinya, mending Sangkuriang nikah ama tante Rara Jonggrang, ajibbbbb... ^^; Wkwkwkwk! ;p~
Hikmah dari kebijaksanaan Tumang, berimbas pada batalnya pembunuhan Sangkuriang terhadap ayahnya itu dan Sangkuriang pun tak harus menjadi anak durhaka (Aku Sangkuriang woiii! Bukan Malin Kundang! ^^;) dengan menikahi Dayang Sumbi yang adalah ibunya sendiri, malah kini ia beroleh berkah dan anugerah istri yang cantik bagaikan bidadari... ^^;
(Semoga Rara Jonggrang senang membaca cerita ini, dan hukuman membaca cerita 1000 malam pun dapet diskon gede jadi cukup 10 malam 10 hari! ^^;)
Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengah pulau Jawa. Sangkuriang untung, Rara Jonggrang untung, yang merana Bandung Bandawasa! Opera masih berlanjut. Kita tinggalkan Rara Jonggrang yang lagi berbulan madu dengan Sangkuriang pelesir ke Tangkuban Parahu! Mantap euy, dingin-dingin em… Emmm! ^^; Sementara tak jauh dari tempat itu, Bandung Bandawasa yang kini menjadi Raja Priangan mengelana di seputar daerah kekuasaannya yang baru, hingga tibalah ia di Sukabumi...
Tak sengaja lewat depan rumah Deasy Ratnasari, halagh! ;p~ (BGM: Euis! Keantosan Heula! Eleuh-eleuh, saha eta? ^^;)
“ITEUUUNGGGG!!” Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara melengking Ambu!
“Ari budak kamana yeuh? Iteuuuungggg!!!” Kali ini teriakan serak Abah.
Nyi Iteung yang tengah menyapu di halaman sempat terpana melihat gagah Bandung Bandawasa. Melempar senyum tersipu, lalu terburu-buru masuk ke dalam. Bandung juga terperangah! Sungguh ia tak menyangka di daerah kekuasaannya ada gadis lugu semanis itu! Halagh! Geulis pisan, eleuh! ^^; Hendak dikejarnya tapi ragu-ragu, Bandung melihat sekeliling, dilihatnyalah di saung di pematang sawah, seseorang sedang tidur-tiduran sambil memainkan seruling bambu. Dihampirinya orang itu dengan langkah tegap lalu bertanya...
”Sampurasuuun!” ^^;
”Rampeeesss!!” (Salam era sandiwara radio ;p)
”Hampura Jang, bade ngartos, nu eta geulis diditu namina saha nyak? ^^; (Kapan juga Bandung belajar bahasa Sunda?! Tapi karena dia sakti dan pangeran juga paling tidak pernah kursuslah! ;p)
Orang yang disapa buru-buru bangun dari tidur sambil membenahi selempang sarung dan pecinya yang miring, wajahnya kebloon-bloonan, tapi memancarkan aura kebaikan, opo seeh?! ^^;
“Oh? Eta mah Nyi Iteung... Dia mah calon istri sayah!” ^^;
DHUENKKKK!!! @~* Langsung kecut, malu hati Bandung Bandawasa, ealaaaah! Yang ditanya ternyata tunangannya sendiri! Tapi terbersit pula dalam hatinya, ah masa sich? Gadis semanis itu, tunangan lelaki se-gategangomongnya ini? ^^; Jelas-jelas gue jauh lebih ganteng, gagah, dan menarik dibanding...
”KABAYAN!!” ^^; Seperti bisa membaca pikiran, langsung dirinya diperkenalkan! Gubrak! Jangan-jangan ini orang sakti, cuma belaga bloon aja? Waspadalah Bandung Bandawasa...
“Ah, saya mah orang biasa saja!” ^^; Makin kaget Bandung Bandawasa! Bagaimana mungkin Kabayan bisa baca pikiran?! T_T
Dunia memang luas. Tak sedikit orang berilmu yang ternyata jauh mengungguli kepandaian Bandung Bandawasa, namun justru merendah tak berniat menampakkannya. Bandung manggut-manggut, setelah pamit pada Kabayan, diurungkannya niat untuk berkenalan dengan Nyi Iteung, “Ah biarlah mereka berdua bahagia! Mungkin memang sudah jodohnya!” =) Bandung berbesar hati dan mencoba berpikir dewasa. Lho, dia memang sudah dewasa! Beda dengan Sangkuriang yang memang masih remaja! ^^; Bandung pun berpikir TUA... T_T Sadar pada usianya, ia bertekad harus segera dapat menemukan calon permaisuri untuk mendampinginya hidup bahagia hingga akhir masa...
“Hingga Ujuuuuung… Waaaaak… Tuuuuuuu…”
Demikianlah, Ndoro Puteri, Bandung Bandawasa kembali semangat melanjutkan pengembaraan. Puteri Rara Jonggrang tampak berkerjap sesaat. Sepertinya ia makin penasaran. Tapi biar kusimpan lanjutan kisah untuk dongeng esok malam. Sebagai penutup dan pengantar tidur tuan puteri malam ini, kuputarkan lagu KELANA persembahan Bang Haji Rhoma Irama dan grup musiknya, Soneta:
Dalam aku berkelana, tiada yang tahu, kemana ku pergi,
Tiada yang tahu, apa yg kucari...
Gunung tinggi, kan kudaki, lautan kuseberangi, Aku tak peduli...
Tak akan berhenti, aku berkelana...
Sebelum kudapat, apa yang kucari...
Walaupun adanya, di ujung dunia...
Aku kan ke sana, tuk mendapatkannya...
***

Sebuah "CETAR" Untuk ANCOL Yang Lebih "MEMBAHANA"



SEBUAH “CETAR” UNTUK ANCOL YANG LEBIH “MEMBAHANA”
Dhimas Wisnu Mahendra

DAHULU
“Masuki Dunia Fantasi. Dunia ajaib yang mempesona. Dunia sensasi, penuh atraksi. Rekreasi untuk keluarga. Marilah kita pergi sekeluarga. Untuk dapat puas bahagia. Dalam dunia yang mempesona. Dunia Fantasi kita…”
Jingle itu begitu sederhana, mudah melekat, masih terus berputar, terngiang-ngiang di kepala, bahkan setelah berlalu dua puluh lima tahun. Melayang ingatan pada suatu malam Minggu yang cerah, panjang lagi menyenangkan, sekitar tahun 1988. Diajak oleh orang tua sahabat yang tinggal bertetangga persis sebelah kanan rumah, bersama teman-teman sepermainan, berjubelan di dalam Toyota Kijang. Itulah pertama kalinya saya terpana saat mengunjungi tempat wisata terkenal di Jakarta, Taman Impian Jaya Ancol, yang sebelum kami lahir lebih populer disebut Bina Ria.
Meski hanya sebentar berputar-putar, menyusuri tepi pantai, menyambangi Pasar Seni, dan mengitari area theme park Dunia Fantasi yang pesat berkembang menjadi daya tarik utama Ancol sejak dibuka pada 29 Agustus 1986, tiada henti kami berdecak kagum. Terpancar dari binar yang terpantul di mata membelalak kami. Menyaksikan benderang kincir raksasa Bianglala, ditingkah ledakan petasan bersahutan dan percik kembang api yang mewarnai langit malam yang bersih tanpa awan, imajinasi masing-masing kami berlompatan, lincah menari, mengikuti irama jingle yang mengajak bernyanyi.
“Marilah nyanyi dan tertawa gembira. Dalam dunia penuh impian. Khayalan membawa harapan. Dunia Fantasi kita.”
Terbatasnya waktu membuat kami menelan harap, sambil menelan ludah melihat sekumpulan anak mengerumuni gerobak, menjilati es krim nikmat. Sadar tak mungkin malam itu kami diajak naik komedi putar atau kereta gantung, atau minimal berfoto dengan badut bekantan berhidung terong, ikon Dufan, yang kerap kami lihat di lembaran iklan pada majalah Bobo, dalam hati aku menyimpan impian, suatu saat aku akan kembali bersama keluargaku. Mungkin nanti jika papaku sudah mempunyai mobil sendiri. Mimpi sederhana anak usia delapan tahun.
Kijang kami yang tidak dapat melompat itu meluncur tenang menyeberangi jembatan merah yang kabarnya dulu adalah tempat hantu Si Manis Jembatan Ancol sering menampakkan diri. Kata orang sich cantik, tetapi hantu tetap saja menyeramkan. Lagipula waktu itu aku belum mengerti ‘cantik’ itu seperti apa. Tapi aku dan teman-teman bersyukur diajak oleh Om Yon dan Tante Nike, orang tua Adi dan Yana, bertamasya ke Ancol. Pengalaman malam itu berkesan begitu dalam dan tidak terlupakan.
Dua tahun kemudian, terwujud juga impian bersama keluarga piknik ke Ancol. Akhirnya aku masuki juga Dunia Fantasi yang selama ini terbingkai dalam alam fantasi. Terpesona menyaksikan aneka tingkah dua puluh tiga gorila dan simpanse lucu, yang sebenarnya mekanik, di wahana Balada Kera, lincah memainkan operet musik. Berikutnya, duduk tenang di perahu, kami berdebar ketika memasuki terowongan, menyusuri sungai berliku dalam gua buatan. Pengunjung mulai berseru riuh dan terpukau saat menjumpai boneka animatronik berjajar melambai di tepian sungai, menari dengan gemulai. Mengenakan pakaian khas dari beragam daerah Nusantara hingga etnis negara berbagai belahan dunia, boneka-boneka yang mencapai enam ratus buah jumlahnya itu menyapa hangat pengunjung di Istana Boneka. Mengagumi boneka gadis Bali melenggak-lenggok, atau gadis Hawaii menari hula-hula dengan liuk menarik, aku di usia sepuluh tahun mulai mengerti, mungkin inilah yang dinamakan ‘cantik’.
Tapi saat itu, aku lebih tertarik pada sosok jagoan Ksatria Baja Hitam yang kabarnya datang langsung dari Jepang! Dulu saat Gaban dan Goggle Five, tokoh jagoan favorit anak-anak pada tahun delapanpuluhan, mengadakan show di Indonesia, aku belum punya keberanian meminta izin orang tua untuk nonton di Istora (Istana Olahraga, Senayan). Sadar biayanya besar, tak ingin membebani mereka, aku pun bersabar. Hingga kemudian datang lagi kabar! Ksatria Baja Hitam datang ke Indonesia, akan beraksi di Ancol! Gratis pula! Inilah kesempatan yang kunantikan. Sembari berdebar pinta kuajukan. Bersyukur orang tuaku mengabulkan. Malu juga sebab sempat kujadikan demam sebagai rajukan.
Dengan hati berbuncah senang dan riang, malam itu sekeluarga kami berangkat ke Ancol. Dalam angan, aku sudah membayangkan berfoto dan bersalaman dengan jagoan idaman. Sedikit kecewa sebab berbeda dari iklan yang kulihat di televisi, ternyata bukan Kotaro Minami sendiri yang datang ke sini! Motor Belalang Tempur pun hanya berputar-putar di atas panggung. Tak ada aksi atraktif dan eksplosif. Kelak aku ketahui, yang ditayangkan di TV hanyalah cuplikan dari film seri. Mimpiku boleh terkubur, tapi orang tua dan adikku memeluk menghibur, hingga hatiku tak jadi hancur. Akhirnya aku menertawakan diriku sendiri. Setelahnya kami berkeliling lagi. Memasuki Lorong Sesat berliku penuh kaca di sana sini, saling tabrak mobil senggol di arena Baku Toki, naik kuda komedi Turangga-rangga dan berputar tiga kali, aku berangsur gembira, kecewa lupa, sudah tak sedih lagi.

 

SEKARANG
Hari berganti. Waktu terus berlalu. Sahabat datang dan pergi. Teman-teman sepermainan yang dulu bertamasya bersama kini sudah rata-rata berkeluarga. Tapi Ancol tetap setia menanti untuk kami kembali ramai kunjungi, tentunya bersama keluarga lintas generasi. Ancol masa kini, seperempat abad sejak pertama kali aku kunjungi, telah berkembang pesat hingga menjadi pusat hiburan terbesar di Indonesia. Dunia Fantasi terus inovatif berkreasi, menambah wahana baru dan atraksi. Jika dulu hanya ada delapan kawasan menyajikan wahana permainan berteknologi tinggi, meliputi kawasan Indonesia, Jakarta, Asia, Eropa, Amerika, Yunani, Hikayat dan Balada Kera, kini Dufan semakin lengkap dengan sarana edutainment seperti Fisika Dunia Fantasi (Fidufa) maupun Pentas Prestasi. Wahana terbaru Dufan, Treasure Land: Temple of Fire, diluncurkan 15 Desember 2012, menyajikan live action stunt show spektakuler bertabur spesial efek, tentang arkeolog Oklahoma Smith memburu harta karun artefak kuno Suku Inca, dengan misi memperkenalkan arkeologi sebagai disiplin ilmu yang menarik dan penuh dengan tantangan. Bertempat di Panggung Maxima, aksi berdurasi 25 menit ini dipentaskan dua kali setiap hari biasa, dan tiga kali sehari pada hari libur atau akhir pekan.
Gelanggang Samudra yang dulu kerap mementaskan atraksi lumba-lumba sekarang berevolusi menjadi Ocean Dream Samudra, rumah yang nyaman bagi pertunjukan memukau beraneka satwa. Taman Rekreasi Air Gelanggang Renang pun bak disulap kini tampil dengan wajah baru, Atlantis Water Adventure, menawarkan bervariasi sensasi petualangan seru dan menegangkan, bermain air semakin menyenangkan. Sea World Indonesia yang menempatkan diri sebagai sahabat biota perairan tawar dan air laut terus melengkapi ribuan koleksi, khazanah elok kekayaan bahari serta keanekaragaman hayati. Tak hanya menjadi ajang rekreasi yang menghibur, Sea World juga mendidik tanpa menggurui, dan mengajak kita lebih mencintai alam dengan melakukan konservasi. Selain itu, kini Ancol juga punya EcoPark. Lahan terbuka hijau hasil revitalisasi lapangan golf ini dimaksudkan untuk area wisata edukasi, antara lain melalui Learning Farm, mengajak pengunjung terutama anak-anak bertani dan berkebun serta menanam sayuran. Masih di EcoPark, Ancol juga punya wahana atraksi malam di Fantastique Multimedia Show, menggabungkan teknologi tinggi 3D mapping dan water fountain dengan setting panggung extravaganza seperti benteng kerajaan serta kanal dan kapal, sejumlah 50 penari dan pemain teater siap menggebrak melalui kisah legenda Nusantara, yakni “Timun Mas dan Buto Ijo”.
Mengagumkan. Ini pengakuan jujur seseorang setelah lama tak mengunjungi sahabat lamanya, turut bangga menyaksikan kemajuan yang telah dicapai. Tentunya Ancol tak boleh terlena dan lengah, harus terus berbenah dan mempercantik diri. Ngomong-ngomong soal cantik, sekarang aku sudah tahu, lho! ‘Cantik’ itu… Ehm… Seperti istriku! Intermezzo… Seiring usia semakin dewasa, Ancol tak henti bermimpi dan mewujudkan impian. Kian matang dalam menyambut tantangan masa depan. Mimpi adalah harapan. Visi adalah visualisasi dari mimpi yang menanti perwujudan. Memasuki tahun baru 2013, Ancol mengidamkan diri menjadi “Ikon Wisata Edukasi”. Aku yang merasakan turut tumbuh bersama Ancol tentu ikut senang, mengapresiasi. Sebab itu berarti Ancol dapat memberikan manfaat lebih bagi para pengunjung setia.
Tulisan seringan permen kapas ini bertujuan menggeliatkan semangat dan memberi “permen” sebagai suplemen inspirasi. Mungkin akan ada rasa “mengezutkan”, seperti permen populer masa kecil, “Nano-Nano” memadukan rasa manis-asam-asin, atau permen “Pop Rock” meledak di mulut. Meski sensasinya cukup mengagetkan, permen-permen itu diminati oleh anak-anak. Karena aku menganggap Ancol sebagai sahabat masa kecil yang tumbuh besar bersama, aku merasa ada keterikatan emosi dan keterkaitan batin, seirama menyaksikan dinamika perkembangan serta kemajuan Ancol.
Maka, mari kita bicara, sebagai teman yang bertemu kembali saat sudah sama-sama dewasa.
Sahabatku, Ancol…
Aku tak akan lagi menggunakan kata “Aku”, melainkan “Saya”, karena menanggalkan “keakuan” adalah salah satu ciri manusia dewasa, yang matang dan tak sekedar bertambah tua. Baiklah. Sebagai sahabat, kita terbiasa jujur mengungkapkan isi hati. Dan jeritan ini mewakili suara pengunjung lainnya. Terus terang ada yang sedikit mengganjal dan perlu disampaikan, karena saya merasa ini penting untuk kebaikan juga perbaikan, dan supaya tidak ada duri di antara kita. Apa yang diutarakan bukan lantaran benci, dengki, ataupun iri hati, melainkan karena rasa sayang serta peduli.
Ada sedih menggelayut. Ada sepi yang mengisi relung hati. Rasanya seperti, tahu khan, jika ada teman bermain kita yang sekarang sudah sukses, lantas jadi menjaga jarak dari teman lamanya? Atau kesuksesannya itu yang justru membuat teman-teman memilih menjauh darinya. Saya katakan, rasanya. Bukan itu yang benar-benar terjadi. Mungkin samar, bahkan tidak terlihat, tapi percayalah, terasa! Ada semacam barrier yang tak tampak. Ada semacam perang dingin di udara merebak. Satu demi satu teman lama pergi. Lama-lama Ancol kian sepi, ditinggal sendiri. Rasanya tak mengenakkan. Sebagai sahabat, ada saatnya kita bicara dan tidak lagi berdiam.
Saya bukan dari manajemen Ancol. Saya juga tidak tahu alasan apa saja yang mendasari semua keputusan penting yang diambil hingga Ancol menjadi besar seperti sekarang. Tentu keputusan-keputusan itu diambil untuk alasan-alasan baik lainnya. Hanya saja, tiap keputusan bukan berarti bebas masalah. Sebab, Ancol bukan Pegadaian yang slogannya “mengatasi masalah tanpa masalah”. Meski demikian, jangan takut mendapat masalah, sebab masalah hadir untuk dicarikan solusi dan kita atasi.
Jika boleh berandai menganalisa, dari kacamata pengunjung awam seperti saya, masalah yang utama tampaknya berkisar di seputar BIAYA. Tak dapat dipungkiri, untuk menciptakan “DUNIA” impian seperti Ancol tentu dibutuhkan banyak sekali biaya, mulai dari biaya pembangunan, pengembangan, pemeliharaan, hingga operasional sehari-hari. Di samping itu, dengan status kepemilikan saham 72% oleh Pemda DKI Jakarta, 18% oleh PT Pembangunan Jaya dan 10% oleh masyarakat, Ancol yang go public pada 2 Juli 2004 dituntut meningkatkan kinerja perusahaan dan terus tumbuh secara sehat, dengan kata lain, harus pula menghasilkan keuntungan untuk pengembangan dan kemajuannya di masa mendatang.
Masalah sepertinya terletak pada pilihan strategi. Pada satu sisi, high cost menuntut high return yang mau tak mau harus ditutupi. Cara cepat menuju Break Even Point adalah dengan membebankan sebagian biaya kepada pengunjung melalui peningkatan signifikan harga tiket masuk (HTM), misalnya, Dunia Fantasi sebagai theme park pertama, terbesar dan terlengkap di kawasan Ancol. Cara lain bisa dengan mengembangkan investasi, tapi perputaran dengan cara ini tentu saja butuh waktu untuk menghasilkan. Meski ada banyak cara lain yang dapat dicoba, jalan pintas menaikkan HTM tampaknya cukup menggoda. Walau pilihan yang sulit, langkah inilah agaknya yang diambil oleh manajemen Ancol.
Tiap pilihan yang diambil pasti punya alasan, seperti ia juga memiliki konsekuensinya sendiri. Pihak manajemen tentu memiliki hak prerogatif untuk menentukan kebijakan perusahaan yang dikelola mereka. Meski demikian, bagi Ancol sendiri, keputusan membebankan sebagian biaya pada pengunjung berdampak mengurangi jumlah pengunjung, terutama yang sebelumnya setia, jadi harus berpikir sekian kali sebelum memutuskan pergi ke Dufan, karena keberatan dengan tingginya HTM. Terakhir seingat saya, lima tahun lalu HTM Dufan masih sekisaran dua puluh lima ribu Rupiah, sekarang sudah sepuluh kali lipat, bahkan lebih! Dua ratus tiga puluh lima ribu Rupiah di hari kerja, dan menjadi dua ratus enam puluh lima ribu Rupiah di hari libur, bukan jumlah yang sedikit, bahkan untuk harga tiket satu orang!
Bayangkan apa yang dipikirkan oleh seorang ayah jika keluarganya mengajak piknik ke Dufan. Mungkin masih terjangkau untuk istri dan satu anak. Bagaimana dengan dua atau tiga orang anak, atau lebih berat lagi, jika ada sanak famili dari kampung berkunjung dan ingin sekali berlibur ke Dufan? Untuk lima orang saja sudah menguras kocek dan mengosongkan saku sang ayah lebih dari satu juta Rupiah! Berapa yang harus dibayar untuk HTM sepuluh orang? Bisa-bisa langsung habis satu bulan gaji karyawan biasa, dalam satu hari saja! Sebuah harga yang “MAHAL” untuk sekali masuk taman bermain! Bahkan untuk taman luar biasa selengkap Ancol! Bisa-bisa, pulang dari Dufan, kantong ayah bolong. Motor kehabisan bensin pula, terpaksa didorong. Duduk lunglai di pinggir jalan, kipas-kipas, gigit jari meringis. Di hati menangis sambil bernyanyi “Butiran Debu”, di tanah benar-benar mengais debu.
Maka muncul pertanyaan, segmentasi pengunjung seperti apa yang disasar oleh manajemen Ancol? Apakah hanya untuk kalangan menengah ke atas yang mampu membayar lebih, atau untuk semua golongan dan segala umur dengan kemampuan minimum terbatas? Suatu produk unggulan tak mesti selalu dinilai dari harga yang mahal. Yang lebih bernilai dan berharga adalah jika produk tersebut bisa memberikan nilai tambah berupa manfaat bagi penggunanya. Adapun yang lebih tak ternilai adalah tingkat kepuasan yang dirasakan. Maka jika pengunjung menjadi puas sepulang mereka mengunjungi Ancol, benar-benar puas tanpa diembeli keluhan menyayangkan, misalnya harga HTM yang mahal, itu adalah worthed value yang semestinya dicari oleh pihak manajemen Ancol.
Mengkritisi itu mudah. Yang sulit dilakukan tetapi lebih baik adalah memberikan solusi. Terkait masalah tingginya HTM, sebenarnya Ancol sudah pernah menerapkan langkah yang menurut saya bisa menjadi jalan keluar. Seingat saya, dulu ketika wahana Arung Jeram yang lebih menantang daripada Niagara diluncurkan, hampir bersamaan dengan wahana Rama dan Sinta, antrian pengunjung di kedua wahana baru itu membludak, mengular sampai setengah kilometer! Lebih heboh lagi saat Halilintar dan Tornado diluncurkan. Saya sendiri pernah mengulang naik Halilintar sampai dua putaran berturut-turut, saat mendampingi seorang advisor dari Jepang. Saya perhatikan, pengunjung rela berpeluh ria meskipun harus membayar tiket tambahan dengan harga terpisah. Barangkali hal ini dapat dijadikan alternatif solusi. Alih-alih mengenakan biaya HTM tinggi untuk menikmati semua wahana, mungkin lebih efisien jika biaya masuk Dufan dipatok standar dan terjangkau, katakanlah seratus ribu Rupiah, dan untuk wahana tertentu yang sekiranya menarik minat banyak pengunjung, dapat dikenakan biaya tambahan. Saya percaya cara begini lebih efektif untuk mendulang pengunjung dan mengundang teman-teman yang lari itu mendekat kembali. Bagaimanapun, tentu tidak semua wahana yang ada akan dicoba satu persatu dinaiki. Bahkan untuk mengunjungi semua kawasan bisa jadi tidak selesai dalam sehari. Maka kurang tepat rasanya jika menerapkan sistem seperti “All You Can Eat”. Biarkan pengunjung “memakan” sajian yang sesuai dengan seleranya saja, tak harus dipaksa menelan semua hidangan di atas meja.
Dengan HTM senilai seratus ribu Rupiah, wahana yang “biasa” saja pun sudah cukup dapat memuaskan, atau melelahkan sebab terlalu banyak wahana untuk dikunjungi. Adapun tiket tambahan untuk wahana “luar biasa”, semisal dipatok seharga di atas tiga puluh ribu hingga maksimal lima puluh ribu Rupiah, saya pikir masih akan dinilai “terjangkau” serta dapat dimaklumi. Jika tak hendak menaiki wahana istimewa itu pun pengunjung tak harus membayar untuk sesuatu yang tidak dinikmati, sehingga mereka tetap nyaman dan tidak merasa dirugikan. Prinsipnya, seperti pada Pajak Pertambahan Nilai, untuk setiap pertambahan nilai dapat dikenakan PPN. Tiap tambahan kepuasan wajar mensyaratkan biaya ekstra. Tapi jika pengunjung puas, mereka akan membayarnya dengan sukarela, karena sudah merasa sukacita. Dengan cara demikian, Ancol akan merasakan dampak yang lebih positif. Pemasukan laba tetap banyak, perputaran juga tetap tinggi. Pengunjung tetap membludak, target dapat terpenuhi.
Seperti wahana Perang Bintang yang menyajikan imajinasi ke dalam visualisasi tiga dimensi, terlihat seolah-olah nyata padahal virtual, dalam ilmu Marketing, seperti itu pula pertempuran image terhadap suatu brand. Pertempuran sesungguhnya bukan adu harga di dunia nyata, melainkan di dalam benak pelanggan! Salah satu hukum dasar pemasaran menandaskan: ”The battle is in the mind of the customer”. Maka siapa yang dapat memenangkan persepsi pelanggan, dia akan mengambil keuntungan lebih darinya. Meski jika dikalkulasi harga yang harus dikeluarkan oleh pengunjung relatif tak berbeda jauh, namun dengan menciptakan persepsi bahwa dirinya telah diuntungkan dengan HTM yang tak terlalu mahal, masih dapat menikmati aneka macam wahana, mereka akan dengan sadar dan rela mengeluarkan biaya lebih untuk dapat menikmati tambahan penawaran yang dinilai sebanding dengan harga yang harus dibayarkan.
Maka terus terang saya jadi sedih menyaksikan kini sahabat saya, Ancol, yang semula sepertinya “jual mahal” kini terkesan menjadi “banting harga” dengan menawarkan program diskon besar-besaran hingga 50%, hampir di tiap kesempatan, dan di banyak tempat. Diakui atau tidak, ini yang terlihat. Ancol seperti frustrasi menggaet kembali “cinta” teman lama, para pengunjung yang semula setia, namun kini sudah terlanjur mutung, bahkan mulai berpaling ke “taman sebelah” dengan HTM yang lebih rendah, tapi menawarkan keunggulan dari segi kenyamanan indoor dan tentunya pengalaman baru dengan impresi berbeda dari Ancol.
Maaf, Sobat. Tapi betul, itu yang terjadi. Suka atau tidak suka, harus diakui. Meski kau tambah beraneka atraksi dan wahana, sulit untuk mengobati hati yang sudah kecewa. Dan bagi kami, saat ini jika mengunjungi Ancol, kami bagai melihat diri kami di masa kanak-kanak dulu, yang hanya bisa menatap gemerlap Dunia Fantasi dari luar pagar dengan tatapan sedih dan memelas sembari mengurut dada. Menyayangkan besarnya biaya untuk masuk Dufan, dan sulitnya membahagiakan anak-anak kami yang merengek penuh harap ingin bermain di sana, tapi orang tuanya terbentur biaya. Sudahlah jangan sesali. Yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran. Jangan patah semangat atau berduka! Belum terlambat untuk mengubah citra serta membina hubungan lebih baik. Introspeksi, sadari, pahami, lalu perbaiki!
Yakinlah, usaha sungguh-sungguh dapat merajut lagi harmoni. Yang penting ada upaya dari Ancol untuk menjangkau dan merengkuh kembali. Suatu saat jika merindu masa dulu, tentu mereka kembali ingat. Saat mereka kemudian melihat, dengan usaha gigihmu, kau kembali layak untuk dicintai, cinta lama dapat kembali bersemi. Seperti judul lagu hits Dewa19 di tahun sembilanpuluhan, “Cinta Kan Membawamu Kembali”, Ancol yang pernah singgah di hati, selayaknya tetap dicintai.


MASA MENDATANG     
Mengawali tahun baru 2013, Ancol menggebrak dengan membuka sejumlah theme park dan wahana baru. Mengubah lapangan golf menjadi lahan terbuka hijau EcoPark adalah langkah strategis dalam menerjemahkan visi menjadikan Ancol ikon wisata edukasi. Kini pengunjung tak sekedar datang ke Ancol untuk rekreasi, tapi juga dapat aktif berkreasi! Seperti catatan President Letter Ancol 2013: “Create Or Die, Time to Change!”, menjadi kreatif serta inovatif adalah sebuah keharusan! Jika tidak ingin mati, Ancol harus terus berkreasi membuat terobosan-terobosan baru yang lebih segar.
Inilah saat tepat untuk berubah dan membuat perubahan bersejarah! Meski demikian, tetap jangan lengah! Investasi besar-besaran yang telah dan tengah dilakukan untuk mengubah wajah Ancol menjadi Ancol baru yang lebih edukatif dan ramah lingkungan hendaknya didukung program-program unggulan yang memang potensial dikembangkan dan positif bakal diminati oleh para pengunjung yang datang. Jangan sampai terjadi, sudah habis-habisan menyiapkan lahan, tapi tetap saja pengunjungnya sepi, lantaran program yang ditawarkan kurang menarik, tak cukup membuat melirik, atau kembali lagi ke masalah klasik, biaya HTM yang tinggi mencekik.
Pola pikir klise masyarakat di Indonesia sesuai doktrin prinsip ekonomi, bagaimana dengan biaya sekecil-kecilnya dapat beroleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Atau dengan bahasa sederhana, jika bisa gratis, mengapa harus bayar? Mau bermain saja kok harus bayar? Mau belajar sambil bermain, juga masih bayar? Jika demikian, lebih baik belajar di rumah saja, atau bermain di kampung, di lapangan dan pinggir selokan saja. Tidak ada bedanya! Jika EcoPark diharapkan menjadi seperti kampung wisata yang turun ke sawah atau masuk ke desa, lupakan saja! Ide seperti itu sudah banyak yang mencetus dan mewujudkan! Jangan gunakan ide yang pernah ada! Jangan menjiplak, jangan jadi pengekor! Orisinalitas adalah kata kunci dan magic word suksesnya! Bukan berarti harus membuat sesuatu yang tak pernah ada, tapi bagaimana memanfaatkan apa yang ada untuk menuangkan ide-ide segar yang belum pernah dicoba! Seperti hukum pemasaran yang lain, “Be The First in Mind”, buatlah sehingga selalu tertanam dalam benak siapa saja, “Wisata Edukasi Hijau” itu identik Ancol! Bukan misalnya sebutlah Kampung Wisata Cinangneng, Taman Bunga Nusantara, Taman Buah Mekarsari, atau Kandank Jurank Doank!
Jadi, gagasan orisinil apa saja kira-kira yang akan lahir, setelah Ancol menyulap lahan terbuka hijau seluas 35 hektar menjadi EcoPark? Tentunya banyak yang bisa dilakukan! Salah satu alat menjaring ide segar tersebut telah dilakukan dengan tepat oleh penyelenggara “Lomba Foto dan Penulisan Ancol 2013” dengan melibatkan masyarakat sebagai stakeholder sekaligus end-user. Lomba foto meng-capture objek dan kegiatan yang bisa dilakukan di kawasan Ancol. Lomba penulisan menggali pendapat dan mendengarkan “curhat” dari masyarakat yang menghendaki Ancol yang lebih baik. Menurut saya adalah hal yang luar biasa, Ancol mau mendengar dan menerima masukan dan saran langsung akan apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan oleh para pemerhati dan pencintanya. Diharapkan, berdasarkan kepedulian teman-teman tersebut, Ancol dapat membuat catatan perbaikan untuk perubahan ke depan yang jauh lebih menjanjikan serta memuaskan bagi semuanya.
Berbicara tentang menuangkan ide, dalam benak saya, masih banyak yang bisa dilengkapi dari program yang diluncurkan EcoPark yang dinilai sudah baik, seperti mengajak masyarakat, terutama anak-anak generasi sekarang, untuk turun ke sawah, belajar bertani dan bercocok tanam. Disayangkan anak-anak zaman ini selalu mendapatkan segala sesuatu dengan mudah serta dengan instan. Mereka jadi kurang peka dan kurang memahami sulitnya berusaha memperoleh dan menghasilkan sesuatu. Diharapkan dengan Ecopark memberi pemahaman memadai, mereka jadi bisa menghargai jerih payah petani, mulai dari proses menanam, menyiangi, hingga memanen padi yang memakan waktu berbulan-bulan baru menikmati hasilnya. Mengenalkan pada anak-anak asal mula nasi yang tiap hari dimakan, sehingga butir bernas hasil bulir keringat dan cucuran air mata itu tidak mereka buang dan sia-siakan setiap kali makan. Mungkin tambahan unsur dongeng rakyat misalnya “Dewi Sri” bisa pula disampaikan oleh pemandu dengan cara asyik dan menarik. Bisa dengan alat bantu wayang kulit atau wayang golek atau wayang potehi, apapun bentuknya, dibuat menggugah minat, mencetuskan inspirasi.
Ecopark dapat membuat Saung Seni Peduli. Selain sebagai tempat rehat dan singgah sejenak setelah berjalan-jalan berkeliling luas taman, di saung itu pengunjung dapat menonton sang dalang atau pendongeng beraksi, menjelaskan pentingnya menanam pohon bagi anak cucu, melakukan penghijauan, merawat tanaman dengan konservasi, memberi pupuk alami, menghindari pestisida. Di sudut lain bisa juga disiapkan Saung Layani Sendiri. Saung untuk bakar jagung yang dipetik sendiri oleh pengunjung usai belajar berkebun. Memeras jeruk dan memarut kelapa, lalu dibuat limun atau es degan, lebih nikmat lagi dibuat sop buah. Mengajarkan anak berlatih mandiri hingga dapat menikmati jerih usaha sendiri. Adakan pula saung untuk mendaur nilai tambah suatu makanan serta mengajarkan cara pembuatannya, sebutlah Saung Kreasi dan Produksi , misalnya sagu yang diolah hingga jadi penganan, atau tebu diperas jadi minuman, yang semuanya dapat ditebus dengan cuma-cuma, atau dengan “harga rakyat”.
Untuk pilihan aktivitas, selain permainan teamwork yang cerdas dan mendorong kerjasama dan kekompakan kelompok, adakan pula kegiatan untuk individu dan keluarga. Selain kawasan outbound, Ecopark dapat pula menyediakan area khusus memancing. Tentu perlu dipersiapkan lokalisasi tambak, dimana pengunjung bisa mengail atau menjala, bahkan menggoreng dan membakar sendiri ikan yang ditangkap di alat panggang yang disediakan di seputar area. Tentu pengunjung wajib untuk menjaga kebersihan. Adakan pula lomba tematik dengan pesan menjaga kelestarian alam. Tak ketinggalan hadiah menarik atau kejutan, jadikan tanda mata yang berkesan dari EcoPark. Selain menambah keakraban dengan teman atau keluarga, ragam aktivitas ini juga menciptakan kesenangan yang nilainya tak terbeli dan tidak terganti. Tentu akan lebih menyenangkan lagi, jika untuk mendapatkan itu semua tak harus mengeluarkan biaya tinggi. Jangan sampai minat menggebu di rumah, jadi surut tertahan di pintu masuk menyaksikan papan harga, atau karena anggota kelompok kurang dari 25 jumlahnya. Sekali lagi, masalah segmentasi. Apakah EcoPark hanya diperuntukkan bagi rombongan dalam jumlah besar, dan keluarga kecil yang bahagia jadi terhalang dari niat mulia hendak mengajarkan anak-anaknya bermain dan belajar ceria di EcoPark? Tetapkan pilihan dengan bijaksana. Dengarkan dan biarkan hati bicara.
Selain EcoPark dimana disewakan pula sepeda santai, golf car, dan segway bertenaga baterai sebagai sarana olahraga ringan menyehatkan, dilengkapi track semi-offroad untuk mereka yang gemar memacu adrenalin, Ancol juga berencana membuka Epic Cable Park di bulan September kelak. Wahana baru ini mengusung misi memperkenalkan wakeboard, seperti skateboard, namun dilakukan di atas air, serta ditarik dengan kabel, tidak lagi dengan speedboat, sehingga dapat lebih ramah lingkungan serta hemat bahan bakar. Yang perlu diperhatikan, meski diklaim kedua wahana tersebut akan menetapkan harga terjangkau, Ancol tetap masih harus menyediakan kawasan umum terbuka yang bebas dinikmati pengunjung dengan bebas tanpa biaya, memperhatikan kenyamanan serta didukung fasilitas penunjang yang lengkap memadai, tidak seadanya saja. Jangan ada ketimpangan antara kawasan berbayar dengan kawasan rakyat, antara yang berada di dalam pagar dengan yang terhalang oleh pagar kawat.
Sebagai catatan tambahan, hendaknya Ancol jangan terpaku hanya pada satu taman tematik saja. Masih banyak yang bisa dikembangkan di kawasan yang dulunya hutan bakau, rawa-rawa, serta kerajaan monyet liar ini. Meski barangkali tak lagi menjadi daya tarik yang utama, kawasan pantai tetap menjadi tujuan favorit rekreasi. Seperti slogan resminya, Ancol memang sebenar-benarnya Jakarta Bay City! Tapi tak cukup sekedar digembar-gemborkan, implementasi slogan harus dipertanggungjawabkan. Sebagai kota pelabuhan, Ancol memiliki lima buah kawasan pantai, dari Festival, Indah, Elok, Ria, hingga Carnival. Namun sejujurnya, saya dan mungkin pengunjung lainnya hampir tidak bisa membedakan ciri atau kelebihan apa yang ditawarkan oleh masing-masing pantai. Tak ada konsep yang jelas. Apa sich bedanya Pantai Indah dengan Pantai Elok, atau dengan Pantai Ria? Bagi kami, pantai ya pantai, kawasan pesisir sepanjang garis pertemuan daratan dengan lautan. Semua pantai kami susuri dan tampak serupa. Hanya Pantai Festival yang masih bisa ditandai, sebab kerap digunakan untuk pementasan dalam skala sedang dan tidak terlalu besar, seperti pernah saya dan teman-teman kunjungi dan turut berpartisipasi dalam Festival Band Se-Jawa-Bali sekitar tahun 2005. Saya waktu itu memainkan keyboard, dan kami membawakan lagu sendiri.


Kita kembali ke pantai. Kawasan ini pun mestinya tak luput atau tertinggal dari perhatian dan pengembangan. Tak cukup hanya membuatkan Promenade, fasilitas jogging track, bersepeda dan jalan sehat. Masalah terutama di sepanjang pantai Ancol masih menyangkut kebersihan. Banyaknya sampah akibat limbah dari 13 sungai besar di Jakarta dan sekitarnya yang bermuara di pantai utara membuat air laut jadi keruh dan kotor hingga tidak nyaman dipandang dan kurang layak digunakan berenang. Selain itu, keseimbangan alam terganggu dan ekosistem jadi rusak. Hal ini tentunya sangat disayangkan. Perlu dilakukan revitalisasi dan normalisasi pantai. Sebab bagaimanapun, sejak zaman Benyamin Sueb nonton bioskop hingga Rhoma Irama lari pagi, dan Warkop DKI syuting film komedi di Bina Ria, hingga sekarang Ancol tetap identik sebagai Wisata Pantai! Kami merindukan pantai Ancol yang bersih dan nyaman. Jika dulu pantai Ancol terkenal sebagai wisata yang murah meriah dan menyenangkan, bagaimana sekarang?
Ini sekedar uneg-uneg dari sahabat lama. Jika tak berkenan, tolong jangan dimasukkan hati. Tulisan dariku, Sobat, semoga menjadi cambuk yang menyentak! Dapat membuat yang tidur terhentak, serta yang terlena terhenyak! Jika disikapi bijaksana, sebuah cemeti yang mencetar bukanlah hukuman, melainkan pecut yang melecut kinerja supaya jadi lebih baik lagi! Meminjam istilah dari pelantun tembang Syahrini, semoga curah hati sahabat ini dapat menjadi sebuah “CETAR” yang dapat menjadikan Ancol semakin “MEMBAHANA” di masa mendatang! Ancol…?! Selalu… “SESUATU”! Semoga sukses!!! :)