Rabu, 30 Januari 2013

Es Cendol Campur Degan



ES CENDOL CAMPUR DEGAN
(E-S’buah Cerita Nyeleneh, Dodol, Campur seru & bikin Deg2an, Ah Maca Ciyyy? ^^;)
Ki Dalang Dhimas Wisnu Mahendra

Inspirasi mendekat mesra padaku sore hari...
Mungkin karena pengaruh candikala, atau karena aku sudah tak begitu disibukkan oleh dunia, hingga dapat luangkan secuil waktu tuk merangkai untai kata, atau barangkali sebab suasana sepi seiring merayap malam mendukung untuk bercengkerama dan jujur bercurah rasa, berbicara polah isi hati dan gejolak jiwa...
Duhai Dinda Dewi, Puteri Permata Bidadari...
Katakan lagi padaku satu mimpi!
Agar dapat kubangun Seribu Candi malam ini... ;)
[BANDUNG BANDAWASA Mode On!]
Wkwkwkwk... ;p~
***
Malam Pertama.
Pujangga bolehlah pandai bersyair, tinggi gunung 1000 janji. Sebuah upaya menepati janji, janji agung dari calon raja kepada yang diharapkan menjadi calon permaisuri. Pembuktian kesungguhan rasa cinta, kerja besar adikarya, membangun 1000 candi megah dalam 1 malam adalah prasyarat musykil, suatu hil yang mustahal, namun cinta adalah sumber kekuatan dengan daya luar biasa, mengubah yang sepertinya tak mungkin sekalipun menjadi mungkin. Apakah itu mungkin? Mbuh yo! Baiknya kita saksikan saja... Mariiii!! ^^;
BANDUNG BANDAWASA, putera mahkota dari kerajaan Pengging mantap menyanggupi syarat yang diajukan oleh RARA JONGGRANG, sang puteri dari kerajaan Boko yang ditaklukkan oleh kerajaannya. Menghormati sang dewi pujaan hati, mencoba merebut hatinya tidak dengan paksaan tapi dengan ketulusan cinta yang berkobar-kobar, segera setelah surya tenggelam memasuki peraduannya, tak menyia-nyiakan waktu, Bandung Bandawasa memberi perintah kepada para prajurit bawahannya! Ribuan siluman dan manusia bekerja lembut hingga keras, bata demi bata, membangun prasasti kemegahan cinta! Detik demi detik begitu berharga. Bulir-bulir keringat membanjiri pondasi susunan batu bertumpuk di atas tanah merah yang semakin tinggi. Waktu yang hanya semalam terasa begitu lama, semua giat bertenaga bekerja. Bandung berdiri berkacak pinggang beri komando dengan gagahnya!
Di sana gunung, di sini gunung! Di tengah-tengah Pantai Senggigi! Lho, itu khan di Lombok, Ki? ^^; Si Bandung bingung, proyeknya nanggung, padahal kurang 1 candi, eh… Udah pagi?!
KUKURUYUUUK!!! =D~
“Kau gagal Bandung! Maaf, aku tak sudi menjadi istrimu!” Tentu saja, sebab Bandung telah membunuh ayahanda tercinta! Tapi Bandung Bandawasa tak bisa terima! Selidik punya selidik, menjadi murkalah ia mengetahui siasat Rara Jonggrang yang memerintahkan para emban abdi setianya untuk memukulkan alu pada lesung dan menipu ayam jantan agar mengira pagi tlah tiba, pagi tlah tiba! Hore! Hore! Hore! ;p Maka berkokok ayam siwalan tak bersalah itu, masih lagi pukul tiga dini hari!
Tak terbendung amarah dan kekecewaan, Bandung yang kalap murka mengutuk Rara Jonggrang dengan kesaktiannya, saat itu juga berubah menjadi candi ke-1000! Melengkapi 999 candi yang telah berhasil dibangun sejauh itu hanya dalam 1 malam! Begitulah asal mula hikayatnya. Ke-1000 candi itu konon kini bisa QT kagumi sebagai Candi PRAMBANAN!!! =D~ Tentu saja tak sampai 1000 buah, tapi sama seperti Pulau Seribu, siapa juga yang kerajinan mau menghitungnya? ^^;
Sementara ayam yang malang juga kena getahnya, dijatuhi supata alias kutukan menjadi candi lain tak jauh dari gusti ayunya sebagai Candi Jago!... Tapi bo'ong! ^^; Wkwkwkwk! =D~ Babad konon caritera dan jangan dibalik, dari sinilah kisah kita berawal! ;p~
***
Alkisah, Bandung Bandawasa yang kecewa tak kesampaian cintanya kemudian memutuskan mengembara ke arah Barat pulau Jawa hingga tibalah ia di Bumi Priangan! Di sana dia terpikat pada kesejukan alam dan panorama yang indah. Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengah ada kebun teh. Bandung Bandawasa lalu memutuskan menetap dan mendirikan kerajaan kecil baru miliknya sendiri yang bernama ibukota seperti namanya: BANDUNG...
Sementara Rara Jonggrang yang telah menjadi candi terus menangis tiap siang dan malam, tapi pagi dan sorenya istirahat ^^; sehingga Dewata Agung lama-lama jadi iba, berkenan mengabulkan permohonannya. Tak langsung dibebaskan sich, tapi masa kutukan sepanjang masa mendapat grasi pada Hari Kemerdekaan, dimana tiap tahun selama 6 jam di Yogya, sebelum Serangan Fajar, sejak tengah malam hingga pagi tiba, ia bisa bernafas lega dan kembali sebentar ke wujud aslinya, tapi tetap tak boleh kemana-mana sebab jika dia nglayap dan terlambat pulang hingga matahari bersinar, tubuhnya akan hancur meleleh seperti es serut cendol campur degan yang mencair terkena garam terbakar terik sinar sang mentari, nach lho, uda kaya vampir aja! ^^; Kecuali, jika ia telah bertemu jodohnya! =)
Maka sebelum cerita ini semakin tidak jelas diacak-acak, Rara Jonggrang bersumpah: Barangsiapa yang bisa membantunya menangkap Ki Dalang Gemblung yang merusak jalan cerita (lho koq jadi malah dendem ama gue? ;p~ Dziiing kabooor!!! ^^;) dalam 6 jam masa tenggang bebasnya mulai tengah malam nanti hingga besok fajar pukul 6 pagi, jika dia wanita akan dijadikan saudari, jika laki-laki menjadi suami! Petir menyambar-nyambar, kilat gemuruh menggelegar. Ternyata yang bersedia menolongnya adalah seekor anjing yang mengaku bernama Tumang, yang berhasil membuatku yang tengah asyik mendalang jadi ngibrit, lari kencang jumpalitan, pontang-panting jatuh-bangun tunggang-langgang, hingga akhirnya tergigit dan diseret dengan paksa ke hadapan Rara Jonggrang! T_T Untung Rara Jonggrang baik, aku hanya dihukum setiap malam wajib mendongeng dan menghibur dirinya! Maka disinilah aku, melanjutkan bercerita, seperti puteri Syahrazad mendongeng kisah 1001 malam pada raja, mulai dari malam pernikahan Rara Jonggrang dengan si Tumang sampai kira-kira... Tiga tahun ke depan! T_T
Tapi benarkah setragis itu nasib Rara Jonggrang, seorang puteri raja yang terlunta-lunta menikah dengan seekor anjing hina? Tentu saja tidak! Karena si Tumang pejantan setia, meski wujudnya anjing tetapi sakti lagi berhati mulia. Ia tak tega mengambil madu untuk istri yang dicintainya, Dayang Sumbi yang berwujud manusia, betapapun Rara Jonggrang mendesak untuk dijadikan istri keduanya, bagaimanapun ia terikat sumpah. Akhirnya si Tumang mengambil jalan tengah, tetap dinikahinya Rara Jonggrang tapi tidak digauli, setelah ijab qobul langsung ditalak, kemudian dijodohkan dengan puteranya yang baru beranjak dewasa: SANGKURIANG... =)
Demi melihat pemuda tanggung nan gagah dan tampan, hati Rara Jonggrang pun berbunga-bunga, ia telah jatuh cinta, tak peduli Sangkuriang itu brownies alias brondong manis. Toh ia juga tak melanggar sumpahnya, berkat kebijaksanaan si Tumang, akhirnya Rara Jonggrang pun menikah dengan Sangkuriang, yach ga beda-beda amatlah ceritanya, kaya Yoko ama bibi Lung, atau Raffi Ahmad ama Yuni Shara, daripada kawin ama ibu sendiri di cerita aslinya, mending Sangkuriang nikah ama tante Rara Jonggrang, ajibbbbb... ^^; Wkwkwkwk! ;p~
Hikmah dari kebijaksanaan Tumang, berimbas pada batalnya pembunuhan Sangkuriang terhadap ayahnya itu dan Sangkuriang pun tak harus menjadi anak durhaka (Aku Sangkuriang woiii! Bukan Malin Kundang! ^^;) dengan menikahi Dayang Sumbi yang adalah ibunya sendiri, malah kini ia beroleh berkah dan anugerah istri yang cantik bagaikan bidadari... ^^;
(Semoga Rara Jonggrang senang membaca cerita ini, dan hukuman membaca cerita 1000 malam pun dapet diskon gede jadi cukup 10 malam 10 hari! ^^;)
Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengah pulau Jawa. Sangkuriang untung, Rara Jonggrang untung, yang merana Bandung Bandawasa! Opera masih berlanjut. Kita tinggalkan Rara Jonggrang yang lagi berbulan madu dengan Sangkuriang pelesir ke Tangkuban Parahu! Mantap euy, dingin-dingin em… Emmm! ^^; Sementara tak jauh dari tempat itu, Bandung Bandawasa yang kini menjadi Raja Priangan mengelana di seputar daerah kekuasaannya yang baru, hingga tibalah ia di Sukabumi...
Tak sengaja lewat depan rumah Deasy Ratnasari, halagh! ;p~ (BGM: Euis! Keantosan Heula! Eleuh-eleuh, saha eta? ^^;)
“ITEUUUNGGGG!!” Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara melengking Ambu!
“Ari budak kamana yeuh? Iteuuuungggg!!!” Kali ini teriakan serak Abah.
Nyi Iteung yang tengah menyapu di halaman sempat terpana melihat gagah Bandung Bandawasa. Melempar senyum tersipu, lalu terburu-buru masuk ke dalam. Bandung juga terperangah! Sungguh ia tak menyangka di daerah kekuasaannya ada gadis lugu semanis itu! Halagh! Geulis pisan, eleuh! ^^; Hendak dikejarnya tapi ragu-ragu, Bandung melihat sekeliling, dilihatnyalah di saung di pematang sawah, seseorang sedang tidur-tiduran sambil memainkan seruling bambu. Dihampirinya orang itu dengan langkah tegap lalu bertanya...
”Sampurasuuun!” ^^;
”Rampeeesss!!” (Salam era sandiwara radio ;p)
”Hampura Jang, bade ngartos, nu eta geulis diditu namina saha nyak? ^^; (Kapan juga Bandung belajar bahasa Sunda?! Tapi karena dia sakti dan pangeran juga paling tidak pernah kursuslah! ;p)
Orang yang disapa buru-buru bangun dari tidur sambil membenahi selempang sarung dan pecinya yang miring, wajahnya kebloon-bloonan, tapi memancarkan aura kebaikan, opo seeh?! ^^;
“Oh? Eta mah Nyi Iteung... Dia mah calon istri sayah!” ^^;
DHUENKKKK!!! @~* Langsung kecut, malu hati Bandung Bandawasa, ealaaaah! Yang ditanya ternyata tunangannya sendiri! Tapi terbersit pula dalam hatinya, ah masa sich? Gadis semanis itu, tunangan lelaki se-gategangomongnya ini? ^^; Jelas-jelas gue jauh lebih ganteng, gagah, dan menarik dibanding...
”KABAYAN!!” ^^; Seperti bisa membaca pikiran, langsung dirinya diperkenalkan! Gubrak! Jangan-jangan ini orang sakti, cuma belaga bloon aja? Waspadalah Bandung Bandawasa...
“Ah, saya mah orang biasa saja!” ^^; Makin kaget Bandung Bandawasa! Bagaimana mungkin Kabayan bisa baca pikiran?! T_T
Dunia memang luas. Tak sedikit orang berilmu yang ternyata jauh mengungguli kepandaian Bandung Bandawasa, namun justru merendah tak berniat menampakkannya. Bandung manggut-manggut, setelah pamit pada Kabayan, diurungkannya niat untuk berkenalan dengan Nyi Iteung, “Ah biarlah mereka berdua bahagia! Mungkin memang sudah jodohnya!” =) Bandung berbesar hati dan mencoba berpikir dewasa. Lho, dia memang sudah dewasa! Beda dengan Sangkuriang yang memang masih remaja! ^^; Bandung pun berpikir TUA... T_T Sadar pada usianya, ia bertekad harus segera dapat menemukan calon permaisuri untuk mendampinginya hidup bahagia hingga akhir masa...
“Hingga Ujuuuuung… Waaaaak… Tuuuuuuu…”
Demikianlah, Ndoro Puteri, Bandung Bandawasa kembali semangat melanjutkan pengembaraan. Puteri Rara Jonggrang tampak berkerjap sesaat. Sepertinya ia makin penasaran. Tapi biar kusimpan lanjutan kisah untuk dongeng esok malam. Sebagai penutup dan pengantar tidur tuan puteri malam ini, kuputarkan lagu KELANA persembahan Bang Haji Rhoma Irama dan grup musiknya, Soneta:
Dalam aku berkelana, tiada yang tahu, kemana ku pergi,
Tiada yang tahu, apa yg kucari...
Gunung tinggi, kan kudaki, lautan kuseberangi, Aku tak peduli...
Tak akan berhenti, aku berkelana...
Sebelum kudapat, apa yang kucari...
Walaupun adanya, di ujung dunia...
Aku kan ke sana, tuk mendapatkannya...
***

1 komentar:

  1. Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Menulis Komedi Cinta" yang diselenggarakan Penerbit Gradien Mediatama.

    Merupakan bagian pembuka dari cerita bersambung.

    Sumber Pengumuman Lomba:
    http://bloggradien.wordpress.com/2012/12/22/festival-desember-lomba-menulis-komcin-komedi-cinta/

    BalasHapus