ES CENDOL CAMPUR DEGAN
(E-S’buah Cerita
Nyeleneh, Dodol, Campur seru & bikin Deg2an, Ah Maca Ciyyy? ^^;)
Ki Dalang Dhimas Wisnu Mahendra
Inspirasi mendekat mesra padaku sore hari...
Mungkin karena pengaruh candikala, atau karena aku
sudah tak begitu disibukkan oleh dunia, hingga dapat luangkan secuil waktu tuk
merangkai untai kata, atau barangkali sebab suasana sepi seiring merayap malam
mendukung untuk bercengkerama dan jujur bercurah rasa, berbicara polah isi hati
dan gejolak jiwa...
Duhai Dinda Dewi, Puteri Permata Bidadari...
Katakan lagi padaku satu mimpi!
Agar dapat kubangun Seribu Candi malam ini... ;)
[BANDUNG BANDAWASA
Mode On!]
Wkwkwkwk... ;p~
***
Malam Pertama.
Pujangga bolehlah pandai
bersyair, tinggi gunung 1000 janji. Sebuah upaya menepati janji, janji agung
dari calon raja kepada yang diharapkan menjadi calon permaisuri. Pembuktian
kesungguhan rasa cinta, kerja besar adikarya, membangun 1000 candi megah dalam
1 malam adalah prasyarat musykil, suatu hil yang mustahal, namun cinta adalah
sumber kekuatan dengan daya luar biasa, mengubah yang sepertinya tak mungkin
sekalipun menjadi mungkin. Apakah itu mungkin? Mbuh yo! Baiknya kita saksikan
saja... Mariiii!! ^^;
BANDUNG BANDAWASA,
putera mahkota dari kerajaan Pengging mantap menyanggupi syarat yang diajukan
oleh RARA JONGGRANG, sang puteri dari kerajaan Boko yang ditaklukkan oleh
kerajaannya. Menghormati sang dewi pujaan hati, mencoba merebut hatinya tidak
dengan paksaan tapi dengan ketulusan cinta yang berkobar-kobar, segera setelah
surya tenggelam memasuki peraduannya, tak menyia-nyiakan waktu, Bandung
Bandawasa memberi perintah kepada para prajurit bawahannya! Ribuan siluman dan manusia
bekerja lembut hingga keras, bata demi bata, membangun prasasti kemegahan
cinta! Detik demi detik begitu berharga. Bulir-bulir keringat membanjiri
pondasi susunan batu bertumpuk di atas tanah merah yang semakin tinggi. Waktu
yang hanya semalam terasa begitu lama, semua giat bertenaga bekerja. Bandung
berdiri berkacak pinggang beri komando dengan gagahnya!
Di sana gunung, di sini gunung! Di tengah-tengah Pantai
Senggigi! Lho, itu khan di Lombok, Ki? ^^; Si Bandung bingung, proyeknya
nanggung, padahal kurang 1 candi, eh… Udah pagi?!
KUKURUYUUUK!!! =D~
“Kau gagal Bandung! Maaf,
aku tak sudi menjadi istrimu!” Tentu saja, sebab Bandung telah membunuh
ayahanda tercinta! Tapi Bandung Bandawasa tak bisa terima! Selidik punya
selidik, menjadi murkalah ia mengetahui siasat Rara Jonggrang yang
memerintahkan para emban abdi setianya untuk memukulkan alu pada lesung dan menipu
ayam jantan agar mengira pagi tlah tiba, pagi tlah tiba! Hore! Hore! Hore! ;p Maka
berkokok ayam siwalan tak bersalah itu,
masih lagi pukul tiga dini hari!
Tak terbendung amarah dan
kekecewaan, Bandung yang kalap murka mengutuk Rara Jonggrang dengan
kesaktiannya, saat itu juga berubah menjadi candi ke-1000! Melengkapi 999 candi
yang telah berhasil dibangun sejauh itu hanya dalam 1 malam! Begitulah asal
mula hikayatnya. Ke-1000 candi itu konon kini bisa QT kagumi sebagai Candi PRAMBANAN!!! =D~ Tentu saja tak sampai 1000 buah, tapi sama seperti
Pulau Seribu, siapa juga yang kerajinan mau menghitungnya? ^^;
Sementara ayam yang malang juga
kena getahnya, dijatuhi supata alias kutukan menjadi candi lain tak jauh dari
gusti ayunya sebagai Candi Jago!... Tapi bo'ong! ^^; Wkwkwkwk! =D~ Babad konon
caritera dan jangan dibalik, dari sinilah kisah kita berawal! ;p~
***
Alkisah, Bandung Bandawasa yang
kecewa tak kesampaian cintanya kemudian memutuskan mengembara ke arah Barat pulau
Jawa hingga tibalah ia di Bumi Priangan! Di sana dia terpikat pada kesejukan
alam dan panorama yang indah. Di sana gunung, di sini gunung, di tengah-tengah ada kebun
teh. Bandung Bandawasa lalu memutuskan menetap dan mendirikan kerajaan kecil
baru miliknya sendiri yang bernama ibukota seperti namanya: BANDUNG...
Sementara Rara Jonggrang yang
telah menjadi candi terus menangis tiap siang dan malam, tapi pagi dan sorenya
istirahat ^^; sehingga Dewata Agung lama-lama jadi iba, berkenan mengabulkan
permohonannya. Tak langsung dibebaskan sich, tapi masa kutukan sepanjang masa
mendapat grasi pada Hari Kemerdekaan, dimana tiap tahun selama 6 jam di Yogya,
sebelum Serangan Fajar, sejak tengah malam hingga pagi tiba, ia bisa bernafas
lega dan kembali sebentar ke wujud aslinya, tapi tetap tak boleh kemana-mana
sebab jika dia nglayap dan terlambat
pulang hingga matahari bersinar, tubuhnya akan hancur meleleh seperti es serut cendol
campur degan yang mencair terkena garam terbakar terik sinar sang mentari, nach
lho, uda kaya vampir aja! ^^; Kecuali,
jika ia telah bertemu jodohnya! =)
Maka sebelum cerita ini
semakin tidak jelas diacak-acak, Rara Jonggrang bersumpah: Barangsiapa yang
bisa membantunya menangkap Ki Dalang Gemblung yang merusak jalan cerita (lho
koq jadi malah dendem ama gue? ;p~
Dziiing kabooor!!! ^^;) dalam 6 jam masa tenggang bebasnya mulai tengah malam
nanti hingga besok fajar pukul 6 pagi, jika dia wanita akan dijadikan saudari,
jika laki-laki menjadi suami! Petir menyambar-nyambar, kilat gemuruh
menggelegar. Ternyata yang bersedia menolongnya adalah seekor anjing yang
mengaku bernama Tumang, yang berhasil membuatku yang tengah asyik mendalang jadi ngibrit, lari kencang
jumpalitan, pontang-panting jatuh-bangun tunggang-langgang, hingga akhirnya tergigit
dan diseret dengan paksa ke hadapan Rara Jonggrang! T_T Untung Rara Jonggrang baik,
aku hanya dihukum setiap malam wajib mendongeng dan menghibur dirinya! Maka disinilah
aku, melanjutkan bercerita, seperti puteri Syahrazad mendongeng kisah 1001
malam pada raja, mulai dari malam pernikahan Rara Jonggrang dengan si Tumang
sampai kira-kira... Tiga tahun ke depan! T_T
Tapi benarkah setragis itu
nasib Rara Jonggrang, seorang puteri raja yang terlunta-lunta menikah dengan
seekor anjing hina? Tentu saja tidak! Karena si Tumang pejantan setia, meski
wujudnya anjing tetapi sakti lagi berhati mulia. Ia tak tega mengambil madu untuk
istri yang dicintainya, Dayang Sumbi yang berwujud manusia, betapapun Rara
Jonggrang mendesak untuk dijadikan istri keduanya, bagaimanapun ia terikat
sumpah. Akhirnya si Tumang mengambil jalan tengah, tetap dinikahinya Rara
Jonggrang tapi tidak digauli, setelah ijab
qobul langsung ditalak, kemudian dijodohkan dengan puteranya yang baru
beranjak dewasa: SANGKURIANG... =)
Demi melihat pemuda tanggung
nan gagah dan tampan, hati Rara Jonggrang pun berbunga-bunga, ia telah jatuh
cinta, tak peduli Sangkuriang itu brownies
alias brondong manis. Toh ia juga tak melanggar sumpahnya, berkat kebijaksanaan
si Tumang, akhirnya Rara Jonggrang pun menikah dengan Sangkuriang, yach ga beda-beda
amatlah ceritanya, kaya Yoko ama bibi Lung, atau Raffi Ahmad ama Yuni Shara, daripada
kawin ama ibu sendiri di cerita aslinya, mending Sangkuriang nikah ama tante
Rara Jonggrang, ajibbbbb... ^^; Wkwkwkwk! ;p~
Hikmah dari kebijaksanaan
Tumang, berimbas pada batalnya pembunuhan Sangkuriang terhadap ayahnya itu dan
Sangkuriang pun tak harus menjadi anak durhaka (Aku Sangkuriang woiii! Bukan
Malin Kundang! ^^;) dengan menikahi Dayang Sumbi yang adalah ibunya sendiri, malah
kini ia beroleh berkah dan anugerah istri yang cantik bagaikan bidadari... ^^;
(Semoga Rara Jonggrang
senang membaca cerita ini, dan hukuman membaca cerita 1000 malam pun dapet
diskon gede jadi cukup 10 malam 10 hari! ^^;)
Di sana gunung, di sini
gunung, di tengah-tengah pulau Jawa. Sangkuriang untung, Rara Jonggrang untung, yang merana
Bandung
Bandawasa! Opera masih berlanjut. Kita tinggalkan Rara Jonggrang yang lagi berbulan
madu dengan Sangkuriang pelesir ke Tangkuban Parahu! Mantap euy, dingin-dingin
em… Emmm! ^^; Sementara tak jauh dari tempat itu, Bandung Bandawasa yang kini menjadi
Raja Priangan mengelana di seputar daerah kekuasaannya yang baru, hingga
tibalah ia di Sukabumi...
Tak sengaja lewat depan rumah
Deasy Ratnasari, halagh! ;p~ (BGM: Euis!
Keantosan Heula! Eleuh-eleuh,
saha eta? ^^;)
“ITEUUUNGGGG!!” Tiba-tiba dari
dalam rumah terdengar suara melengking Ambu!
“Ari budak kamana yeuh? Iteuuuungggg!!!” Kali ini teriakan serak Abah.
Nyi Iteung yang tengah menyapu
di halaman sempat terpana melihat gagah Bandung Bandawasa. Melempar senyum
tersipu, lalu terburu-buru masuk ke dalam. Bandung juga terperangah! Sungguh ia
tak menyangka di daerah kekuasaannya ada gadis lugu semanis itu! Halagh! Geulis pisan, eleuh! ^^; Hendak dikejarnya tapi ragu-ragu, Bandung
melihat sekeliling, dilihatnyalah di saung di pematang sawah, seseorang sedang
tidur-tiduran sambil memainkan seruling bambu. Dihampirinya orang itu dengan
langkah tegap lalu bertanya...
”Sampurasuuun!” ^^;
”Rampeeesss!!” (Salam era sandiwara radio ;p)
”Hampura Jang, bade ngartos, nu eta geulis diditu namina saha nyak? ^^; (Kapan juga Bandung
belajar bahasa Sunda?! Tapi karena dia sakti dan pangeran juga paling tidak
pernah kursuslah! ;p)
Orang yang disapa buru-buru
bangun dari tidur sambil membenahi selempang sarung dan pecinya yang miring,
wajahnya kebloon-bloonan, tapi memancarkan aura kebaikan, opo seeh?! ^^;
“Oh? Eta mah Nyi Iteung... Dia mah calon istri sayah!”
^^;
DHUENKKKK!!! @~* Langsung
kecut, malu hati Bandung Bandawasa, ealaaaah! Yang ditanya ternyata tunangannya
sendiri! Tapi terbersit pula dalam hatinya, ah
masa sich? Gadis semanis itu, tunangan lelaki se-gategangomongnya ini? ^^; Jelas-jelas gue jauh lebih ganteng,
gagah, dan menarik dibanding...
”KABAYAN!!” ^^; Seperti bisa
membaca pikiran, langsung dirinya diperkenalkan! Gubrak! Jangan-jangan ini orang
sakti, cuma belaga bloon aja? Waspadalah Bandung Bandawasa...
“Ah, saya mah orang biasa saja!” ^^; Makin kaget
Bandung Bandawasa! Bagaimana mungkin Kabayan bisa baca pikiran?! T_T
Dunia memang luas. Tak
sedikit orang berilmu
yang ternyata jauh mengungguli kepandaian Bandung Bandawasa, namun justru
merendah tak berniat menampakkannya. Bandung manggut-manggut, setelah pamit
pada Kabayan, diurungkannya niat untuk berkenalan dengan Nyi Iteung, “Ah
biarlah mereka berdua bahagia! Mungkin memang sudah jodohnya!” =) Bandung
berbesar hati dan mencoba berpikir dewasa. Lho, dia memang sudah dewasa! Beda dengan Sangkuriang yang
memang masih remaja! ^^; Bandung pun
berpikir TUA... T_T Sadar pada
usianya, ia bertekad harus segera dapat menemukan calon permaisuri untuk
mendampinginya hidup bahagia hingga akhir masa...
“Hingga Ujuuuuung… Waaaaak… Tuuuuuuu…”
Demikianlah, Ndoro Puteri, Bandung Bandawasa kembali
semangat melanjutkan pengembaraan. Puteri Rara Jonggrang tampak berkerjap sesaat.
Sepertinya ia makin penasaran. Tapi biar kusimpan lanjutan kisah untuk dongeng
esok malam. Sebagai penutup dan pengantar tidur tuan puteri malam ini,
kuputarkan lagu KELANA persembahan Bang Haji Rhoma Irama dan grup musiknya,
Soneta:
Dalam aku berkelana, tiada yang
tahu, kemana ku pergi,
Tiada yang tahu, apa yg kucari...
Gunung tinggi, kan kudaki, lautan kuseberangi, Aku tak peduli...
Tak akan berhenti, aku berkelana...
Sebelum kudapat, apa yang kucari...
Walaupun adanya, di ujung dunia...
Aku kan ke sana, tuk mendapatkannya...
***
Tiada yang tahu, apa yg kucari...
Gunung tinggi, kan kudaki, lautan kuseberangi, Aku tak peduli...
Tak akan berhenti, aku berkelana...
Sebelum kudapat, apa yang kucari...
Walaupun adanya, di ujung dunia...
Aku kan ke sana, tuk mendapatkannya...
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Menulis Komedi Cinta" yang diselenggarakan Penerbit Gradien Mediatama.
BalasHapusMerupakan bagian pembuka dari cerita bersambung.
Sumber Pengumuman Lomba:
http://bloggradien.wordpress.com/2012/12/22/festival-desember-lomba-menulis-komcin-komedi-cinta/